Hal yang pertama saya pikirkan tentang pesantren, pastinya tentang kenangan-kenangan yang
selalu teringat sampai sekarang, Ketika bercanda, bercerita, bermain-main dengan kawan-ka
pondok adalah suatu nikmat yang tidak bisa diungkapkan langsung dengan kata-kata. Pesantren
membawa kehidupanku sampai aku bisa mendapatkan beasiswa, Dimana tidak sembarangan
orang bisa memperolehnya dengan mudah. Aku bangga menjadi lulusan pesantren
kesederhanaan, kerendahan hati, dan sifat terima apa adanya yang menjadi ciri khas dari
kehidupan yang ada dipondok. Dari awal pertama kali didirikan pesantren sampai hari ini,
lulusan-lulusan anak pesantren selalu menjadi kebanggaan bangsa dalam perannya yang terus-
menerus menjunjung tinggi nilai keislaman. Dari mulai toleransi, moderasi, dan sifat amanahnya
dalam menjaga kepercayaan umat, itu semua menjadi kebanggan para santri sendiri dalam
menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman dan Pancasila, sehingga bisa mewujudkan Indonesia
maju atau yang lebih sering kita dengar Indonesia emas.
Pada tahun 2045 Indonesia akan mengalami sebuah momentum yang hanya akan dinikmati
sekali seumur hidup sebuah negara, momentum tersebut dikenal dengan istilah bonus demografi
dimana usia penduduk Indonesia sebagian besar masuk dalam kategori usia produktif. Maka dari
itu bangsa ini menaruh harapan besar tepat diusianya yg ke 100 tahun. Akan tetapi dalam rangka
mewujudkan apa yang disebut dengan Indonesia emas 2045 sangatlah tidak mudah. Hal tersebut
disebabkan oleh kompleksnya tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia terutama
persoalan karakter. Disatu sisi generasi muda Indonesia dihadapkan pada situasi perkembangan
globalisasi yang sangatlah pesat, disisi lain mereka juga harus mampu mempertahankan nilai dan
jati diri bangsa ditengah tekanan perkembangan globalisasi itu sendiri. Perkembangan globalisasi
yang ditandai dengan kemajuan teknologi dan terbukanya akses informasi yang luas sudah pasti
membawa dampak positif dan negatif yang akan merugikan serta berdampak buruk terutama
bagi anak dan remaja berkaitan dengan perilaku serta karakter yang tidak baik yang mereka
dapatkan dari informasi-informasi di dunia maya, mulai dari konten yang bersifat pornografi,
kekerasan, gaya berbicara, gaya hedon serta perilaku buruk lainnya yang sudah sangat jauh dari
ciri serta karakter dari bangsa ini yang sesungguhnya (Sabiq, 2022). Era globalisasi merupakan
masa dimana terjadinya tantangan yang dapat merubah kondisi di berbagai aspek yang dapat
menjadi ajang benturan nilai-nilai sosial budaya (Zainuddin, 2011). Dalam era Globalisasi
sekarang ini pesantren berperan sangatlah penting dalam membentuk karakter seseorang,
terdapat penelitian yang dilakukan oleh Amir, ia menyatakan bahwa pendidikan karakter di
Indonesia diharapkan dapat memberikan solusi terbaik untuk kemajuan pendidikan yang lebih
diwarnai dengan nilai-nilai agama (Amir, 2013). Sebuah karakter yang baik dapat terbentuk
apabila seseorang melakukan atau menjalani suatu kegiatankegiatan yang positif yang ada dalam
lingkungannya, yakni kegiatan pembelajaran yang dapat meningkatkan kecerdasan spiritual
seseorang. Belajar yang dapat menimbulkan perubahan adalah ketika seseorang dalam belajar
selalu diulangulang dan istiqamah, maka akan menghasilkan pemahaman dan menemukan
wawasan baru. Seperti halnya belajar kitab, belajar al-Qur’an, sholat jama’ah, dan kegiatan-
kegiatan positif lainnya, kegiatankegiatan tersebut dalam pesantren tidak hanya dikerjakan sekali
tetapi berkali-kali selama masih belajar di pesantren. Peran pesantren dalam membentuk karakter
seseorang santri yakni dengan dibutuhkan integrasi pembelajaran antara teori dan praktek, serta
penghayatan yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan sehari-hari. Karena, dengan berada
atau bertempat di ranah pesantren, yang notabenenya sebagai lembaga pendidikan Islam yang
telah mampu menunjukkan ketahanannya yang cukup kokoh dalam menanamkan nilai-nilai
karakter sehingga mampu melewati berbagai zaman dengan berbagai masalah yang dihadapi
(Syahri, 2019).
Maka dengan dukungan pernyataan diatas, sudah sangat jelas bahwa peranan pesantren sangatlah
penting dalam membentuk karakter anak bangsa, untuk menjadi karakter yang lebih sigap dan
cepat dalam menghadapi problematika-problematika yang terjadi dimasyarakat. Saya akan
memberi pandangan tentang peran pesantren berdasarkan dari artikel-artikel yang saya baca
mengenai hal tersebut. Saya memandang bahwa memang pesantren dan para santri dan kyai
sangat berperan dalam mewujudkan peradaban yang lebih baik lagi, yang terus menerus
berkelanjutan sampai terwujudnya harapan kita Bersama sebagai rakyat Indonesia yaitu
Indonesia emas tahun 2045. Walau dengan berbagai masalah yang kompleks, akan tetapi peranan
pesantren dalam menghadapi itu semua tidak pernah berhenti, sampai benar-benar mewujudkan
semua yang kita harapkan Bersama, itulah hal yang terpenting. Yang mana kita ketahui bahwa
ternyata peranan pesantren bukan hanya pada era globalisasi ini, bahkan dulu dimasa penjajahan
nama kyai-kyai, dan para santri-santrinya yang berjuang keras dalam mewujudkan kemerdekaan
bagi bangsa Indonesia. Dengan mengangkat panji-panji yang berlafaz allah, dengan tegas dan
berani mengusir dan menghalau penjajah Belanda dari negeri kita yang tercinta ini.
Dan dari pembicaraan diatas saya menyimpulkan bahwa Untuk mewujudkan cita-cita generasi
emas 2045, saat ini bangsa Indonesia dihadapkan pada situasi atau keadaan krisis moral. Hal ini
tidak boleh diabaikan dan lepas dari perhatian semua elemen jika betul-betul hal tersebut ingin
diwujudkan. Untuk mengatasi persoalan krisis karakter atau moral tersebut salah satunya ialah
melalui pendidikan agama. Ketika kita berbicara pendidikan agama maka kita akan tertuju
kepada sebuah lembaga yang disebut pesantren. Pesantren dalam perjalanannya merupakan
sebuah lembaga yang sudah melewati beberapa era yang penuh dengan tantangan akan tetapi
selalu berhasil menciptakan output atau lulusan yang betul-betul berkualitas dari sisi keilmuan
dan dari sisi karakter.
Oleh: Brilian Muhammad Ramadhan
