Mengapa Arab Yang Dipilih Untuk Dijalankan Roda Kerasulan?
A. Letak geografis dan Kondisi Sosial Budaya Masyarakat Arab
Arab pada masa itu merupakan wilayah yang diapit oleh dua dinasti besar, yaitu Sasaniyyah (Persia) dan juga Bizantium (Romawi). Kendati demikian, wilayah Arab tetap tidak menjadi bagian dari dua kekaisaran di atas. Hal tersebut salah satunya disebabkan karena kondisi geogafis wilayah Arab yang sangat tandus dan dirasa sulit untuk menciptakan kehidupan yang makmur.
Kenyataan itu menyebabkan wilayah Arab tetap menjadi wilayah yang otonom. Masyarakat Arab mempunyai dan tetap dengan tradisi mereka sendiri. Salah satu tradisi yang digemari masyarakat Arab adalah bersyair. Kendati banyak yang pandai bersyair, pada masa itu, mayoritas masyarakat Arab tidak dapat membaca dan menulis (ummiy). Mereka melestarikan tradisi tersebut secara oral, sebab paradigma mereka yang menganggap hafalanlah yang dapat menjadi bukti kuat.
Di tengah kondisi geografis dan sosial budaya yang sedemikian rupa, lahirlah Muhammad putra Abdullah, cucu Abdul Muthallib dari rahim Aminah, di tengah suku Quraisy, di Mekkah. Rasulullah lahir dan tumbuh di tengah ummat yang mayoritasnya tidak dapat membaca dan menulis. Oleh sebab itu, tidak heran ketika Rasulullah pun tidak mempunyai kehalian baca dan tulis sebelum turunnya wahyu.
Namun, justru dengan demikianlah risalah yang disampaikan Rasulullah akan bisa dipercaya. Jika Rasulullah lahir dan tumbuh di tengah dinasti Sasaniyah ataupun Bizantium yang sudah memiliki tradisi literasi membaca dan menulis, maka akan timbul anggapan bahwa Al-Quran merupakan ciptaan Nabi Muhammad. Inilah salah satu hikmah yang dapat dijadikan sebagai alasan lahirnya Rasulullah di kota Makkah, Arab.
Dalam buku sirah nabawiyah yang ditulis oleh Abdul Hasan Ali ‘Al-Hasani An-Nadwi dikemukakan mengenai analogi bangsa Arab ketika disandingkan dengan dua kekaisaran yang mengapitnya. Bangsa Arab bagaikan lembaran yang diatasnya hanya ada catatan sederhana yang digoreskan oleh tangan kebodohan dan kesahajaan. Sangat mudah untuk dibersihkan sehingga dapat digambarnya lagi dengan lukisan yang baru. Sedangkan bangsa-bangsa yang terlihat beradab pada zamannya, sebenarnya mereka itu tertimpa kebodohan ganda yang sangat sulit untuk dihilangkan. Mereka disombongkan dan dilalaikan dengan kekuasaan dan kenikmatan yang mereka miliki.
Bangsa Arab terlampau jauh dari penyakit kemewahan yang sulit disembuhkan. Selain itu, orang-orang Arab merupakan orang yang berani. Kejahatan dan tradisi buruk mereka tidak didasarkan berdasarkan kemunafikannya terhadap agama melainkan menjaga kehormatan yang saat itu menjadi tuntutannya. Mereka hanya dirundung kebodohan dan butuh akan pencerahan.
B. Beberapa Faktor yang Mendesak Nabi Diturunkan di Arab
1. Fatrah (masa kekosongan) dari Kenabian yang gelap lagi menghawatirkanPada masa ini, masih ada segelintir orang yang menganut agama yang hanif. Namun, sedikit sekali jumlahnya, sampai-sampai sekecil kunang-kunang yang terbang di malam hari yang dingin dan hujan. Mereka tidak bisa memberikan petunjuk atas kesesatan yang ada dan tidak dapat menghangatkan rasa dingin. Kebenaran-kebenaran yang seharusnya tersampaikan sudah terkubur dalam di bawah tradisi-tradisi ngawur yang mereka Yakini sebagai tradisi nenek moyang.
2. Kebutuhan Terhadap Kehadiran Seorang Nabi
Kerusakan yang terjadi pada bangsa Arab merupakan masalah sistemik yang sudah sangat mengakar. Masalahnya tidakterletak pada salah satu keyakinan atau menghilangkan salah satu adat ataupun menerima peribadatan lain atau perbaikan komunitas masyarakat. Sebab semua itu dapat dilakukan hanya oleh tokoh pembaharu setiap zaman.
Masalah yang terjadi pada bangsa Arab terletak pada pemberantasan puing-puing jahiliyyah dan reruntuhan paganism dan berhalasime yang bertumpuk-tumpuk sepanjang abad dan generasi yang menyebabkan tertimbunnya ajaran para Nabi dan Rasul serta perjuangan kaum pembaharu. Persoalan yang harus dilakukan adalah mencabut kerusakan yang sudah mengakar hingga habis kemudian menanamkan kembali akidah dan tauhid secara sempurna. Dan hal itu hanya dapat dilakukan oleh utusan Allah swt.
C. Penjelasan Allah dalam Al-Qur’an
Mekkah, lebih tepatnya adalah kabah merupakan tempat ibadah pertama yang didirikan oleh
Nabi Ibrahim as. Terdapat dalam QS. Ali-‘Imran: 96. Pada zaman dahulu, Nabi Ibrahim bersama siti Hajar dan putranya, Ismail pergi ke Mekkah lari dari paganism yang menyebar. Ismail tumbuh besar di Makkah dengan kasih sayang Allah salah satunya dengan dialirkannya air zam-zam. Setelah banyaknya peristiwa yang dilalui, diantaranya peristiwa penyembelihan, Nabi ibrahim dan Ismail pun bekerja sama membangun Baitullah di Makkah. Mereka lalu berdoa yang mana diabadikan di dalam QS. Al- Baqarah: 127-129
وَاِذْ يَرْفَعُ اِبْرٰهٖمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ
وَاِسْمٰعِيْلُۗ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ
العَلِيْم
رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ
ذُرِّيَّتِنَآ اُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَۖ وَاَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ
عَلَيْنَا ۚ اِنَّكَ اَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْهُمْ
يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَ
وَيُزَكِّيْهِمْ ۗ اِنَّكَ اَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ
{127}” (Ingatlah) ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa), “Ya Tuhan kami,
terimalah (amal) dari kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”
{128} “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang berserah diri kepada-Mu, (jadikanlah) dari keturunan kami umat yang berserah diri kepada-Mu, tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan manasik (rangkaian ibadah) haji, dan terimalah tobat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang”
{129} “Ya Tuhan kami, utuslah di antara mereka seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Mu, mengajarkan kitab suci dan hikmah (sunah)kepada mereka, dan menyucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
Do’a Nabi Ibrahim pun terkabul. Allah telah memberikan keberkahan pada keturunan keduanya. Dari ismail lahirlah Adnan yang akan melahirkan suku Quraisy yang diakui ketinggian nasabnya, kepemimpinan, kefasihan bahasa dan kemurniannya, kemurnian akhlaknya, keberanian serta kehormatannya. Kemudian dari suku Quraisy, lahirlah Nabi Muhammad sawa dari jalur keturunan Hasyim Bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab. Nabi Muhammad merupakan jawaban dari doa nabi Ibrahim, beliau menjaga kemurnian ajaran nabi Ibrahim sekaligus menjadi khotamul anbiya’ wal Mursalin.
