Pesantren adalah Lembaga Pendidikan tradisional islam yang memiliki
nilai nilai tersendiri yang bertujuan untuk mendalami ilmu-ilmu agama dengan
sistem Pendidikan khas yang berlangsung di lingkungan asrama. Di zaman
modern, terjadi kombinasi antara kultur Pendidikan pesantren dengan
Pendidikan umum sehingga pesantren bisa menyesuaikan diri pada arus
globalisasi modern, khususnya era digital
Apa itu era digital?, menurut Yusril Ihza Mahendra, era digital dalam
konteks Indonesia adalah era yang membuka peluang besar untuk menyebarkan
informasi, memperluas Pendidikan dan mempercepat transformasi social
melalui teknologi. Singkatnya era digital adalah era komplit yang
memungkinkan manusia untuk menerima dan memberikan informasi dengan
cepat dan keperluan lainnya.
Apakah Pesantren mampu berkontribusi dalam penyesuaian teknologi di
era digital?, jawabannya pasti mampu. Pesantren di zaman modern mampu
menghadapi tantangan zaman dengan mengintegrasikan antara ilmu agama dan
ilmu umum. Seperti yang terjadi sekarang ini, bahkan banyak pesantren yang
menerapkan pendidikan berbasis teknologi seperti ujian menggunakan
komputer, menggunakan perangkat lunak untuk mengakses kitab-kitab digital,
penggunaan media sosial sebagai metode dakwah dan lain sebagainya. Hal itu
didasari dengan kemampuan para santri dalam mengikuti perkembangan zaman
saat ini yang mengharuskan bisa dalam penggunaan teknologi dunia digital.
Dampak postif penggunaan teknologi di era digital bisa dikatakan
signifikan, bahkan sangat membantu dalam realisasi menuju Indonesia Emas 2045. Para santri dituntut bisa menggunakan teknologi di era digital supaya bisabersaing dan mengikuti perkembangan zaman. Bahkan terhadap pesantren itu
sendiri bisa memudahkan dalam proses dakwah dan belajar mengajar. Seperti
yang telah disebutkan yaitu salah satunya pelaksanaan ujian menggunakan
komputer sehingga mengurangi anggaran kertas serta menjadikan momen ujian
menjadi lebih sakral.
Hal tersebut tidak lepas dari problematika atau masalah yang dihadapi
pesantren itu sendiri, ibaratnya hal-hal positif tidak pernah lepas dari hal-hal
negatif. seperti penyalahgunaan teknologi di lingkungan pesantren sehingga
kefokusan belajar bisa berkurang akibat kurangnya pengawasan, kesenjangan
akses teknologi bagi Sebagian santri yang secara garis besar didefinisikan
sebagai ‘Buta’ teknologi, yang hal itu berawal dari kiai atau ustadz yang tidak
semuanya paham bahkan bisa memanfaatkan teknologi dalam proses
pembelajaran dan masih banyak lagi problematika lainnya.
Lantas, bagaimana Solusi yang bisa diterapkan untuk menciptakan
pesantren yang berkontribusi dalam era digital?, jawabannya adalah dengan
mengintegrasikan nilai nilai tradisional kepesantrenan ke Pendidikan formal,
atau yang disebut sekarang ini sebagai ‘pesantren modern’. Contoh
penerapannya yaitu salah satu pesantren yang ada di Bangka
mengkombinasikan ajaran kepesantrenan ke kurikulum formal (SMP IT/SMA
IT) sehingga para santri tidak hanya diajarkan ilmu agama seperti ilmu shorof,
balaghoh, Bahasa arab, hadist, tafsir, tahfidz, fiqh, ushul fiqh, akidah akhlak dan
lain-lainnya, tetapi juga diajarkan ilmu umum seperti ilmu Ppkn, Kimia, Fisika,
Biologi, Geografi Matematika, IPS, bahkan ilmu komputer yang menjadi acuan
dunia teknologi digital.
Pemerintah juga berperan dalam membantu pendanaan pengadaan
teknologi sebagai bahan ajar santri mengingat Sebagian besar pesantren di
Indonesia ini menerapkan sistem bisnis mandiri, dan juga mengadakan
pelatihan digital serta peningkatan SDM seperti literasi digital dan lain
sebagainya. Dengan peran aktif pemerintah, pesantren bisalebih mudah
beradaptasi dan memberikan kontribusi yang signifikan dalam kemajuan untuk
menyungsung pesantren yang berkontribusi di era digital.
Kembali lagi ke pertanyaan awal, apakah mampu?. Setelah melihat
aspek-aspek positif maupun negatif yang berkaitan dengan penggunaan
teknologi bagi santri itu sendiri, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan
mewujudkan hal tersebut bergantung pada support atau bantuan yang diberikan,
baik ruang lingkup pemerintah maupun pesantren itu sendiri.
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu pesantren mampu berkontribusi di
era digital, bahkan menjadi peluang besar untuk mewujudkan Indonesia Emas
2045 nanti. Akan tetapi itu semua dapat diraih asalkan aspek negatif yang telah
disebutkan dapat dicegah dan menjadi bahan acuan Pelajaran baik bagi
pemerintah maupun pesantren itu sendiri serta mengembangkan kemampuan
untuk menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Oleh : Lodi Pratama
