“Menjadi baik itu mudah, dengan hanya diam maka yang tampak adalah kebaikan. Yang sulit adalah menjadi bermanfaat, karena itu butuh perjuangan,” demikian dawuh dari KH. M. A. Sahal Mahfudz.
Pesantren telah lama menjadi benteng peradaban Islam di Indonesia, mencetak generasi yang unggul dalam ilmu agama dan akhlak mulia. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi, pesantren menghadapi tantangan besar untuk melahirkan generasi yang tidak hanya kokoh dalam tradisi keislaman, tetapi juga inovatif dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Kaderisasi menjadi kunci penting dalam menjawab tantangan ini, karena melalui proses inilah lahir individu-individu yang siap membawa pesantren menjadi pusat pembaruan yang relevan dan berdaya saing di era global.
Ada beberapa hal yang meyebabkan kaderisasi yang inovatif dan adaptif menjadi penting bagi kemajuan dunia pesantren, yang pertama perihal minimnya keterampilan digital dikalangan santri. Berdasarkan laporan dari Kementerian Agama RI tahun 2022, hanya sekitar 30% pesantren di Indonesia yang sudah terintegrasi dengan teknologi digital dalam sistem pembelajarannya. Sebagian besar pesantren masih menggunakan metode tradisional yang kurang melibatkan keterampilan berbasis teknologi, seperti literasi digital atau coding. Hal ini menjadi kendala besar bagi santri kedepannya jika tidak segera berinovasi menyesuaikan dengan perkembangan zaman untuk menghadapi dunia kerja dan juga penyebaran dakwah yang semakin digital.
Kedua mengenai rendahnya kolaborasi pesantren dengan dunia profesional. Survei oleh Forum Santri Indonesia pada 2021 menunjukkan bahwa hanya 25% pesantren di Indonesia yang memiliki program kolaborasi dengan lembaga profesional atau pelatihan kerja. Padahal, sinergi dengan dunia luar sangat penting untuk membekali santri dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan pasar, seperti manajemen, kewirausahaan, dan teknologi. Hal tersebut juga dapat menjadi kendala bagi kemandirian ekonomi bagi pesantren jika tidak dilakukan regulasi di dalamnya.
Ketiga kerena, Masih banyak pesantren yang pendidikannya belum memadai untuk mengakses sumber pendidikan yamg modern. Menurut data dari NU Online, masih terdapat ribuan pesantren kecil di Indonesia yang belum memiliki akses memadai terhadap sumber daya pendidikan modern. Hal ini membuat santri di pesantren-pesantren tersebut cenderung tertinggal dalam penguasaan ilmu pengetahuan umum, yang menjadi fondasi penting untuk berinovasi.
Yang keempat mengenai stigma masyarakat mengenai lulusan pesantren. Sebuah studi oleh LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) pada 2020 menemukan bahwa lulusan pesantren sering kali masih dianggap hanya unggul dalam ilmu agama, sementara keterampilan lain seperti manajemen waktu, komunikasi, atau kemampuan teknis kurang mendapat perhatian. Akibatnya, banyak santri yang sulit bersaing di dunia profesional, meskipun memiliki potensi besar sebab kurang memiliki branding di ranah tersebut.
Dari kasus-kasus tersebut menunjukkan perlunya reformasi kaderisasi di pesantren agar dikenal lebih luas mampu menciptakan generasi yang tidak hanya memahami agama dengan baik tetapi juga memiliki keterampilan inovatif dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Maka dari pertimbangan tersebutlah Kementrian Agama Republik Indonesia membentuk program beasiswa santri berprestasi (PBSB) yang mana bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di kalangan santri. Membranding sekaligus mengangkat nama santri dan dunia pesantren dalam kancah nasional maupun internasional.
PBSB memberikan kesempatan kepada santri untuk mendapatkan pendidikan berkualitas di perguruan tinggi ternama, dengan harapan mereka dapat menjadi ulama, pemimpin, ilmuwan, dan profesional yang moderat serta mampu berkontribusi positif bagi masyarakat.
Namun ternyata tidak cukup sampai disitu saja. Para santri penerima beasiswa PBSB memerlukan wadah sebagai tempat mereka untuk tumbuh dan berkembang. Mempersiapkan soft skills maupun hard skills (selain ilmu akademik yang mereka pelajari di kampus), sebagai bekal pengabdian mereka untuk pesantren kelak.
Untuk mengatasi keresahan tersebut maka dibentuklah organisasi CSSMoRA (Community of Santri Scholars of Ministry of Religious Affairs) yang mana selain mempersatukan para penerima beasiswa PBSB dalam satu visi dan misi yang sama, sekaligus sebagai wadah bagi para penerima beasiswanya untuk tumbuh dan berkembang.
Sama halnya dengan CSSMoRA di UIN Sunan Kalijaga, untuk menyiapkan kaderisasi yang inovatif dan adaptif terhadap perkembangan zaman, CSSMoRA UIN Sunan kalijaga membentuk beberapa departemen sebagai wadah bagi para awardeenya untuk mengasah skills mereka. Yang terdiri dari, BPH (badan pengurus harian) yang mengatur dan mengontrol jalannya setiap departemen, departemen jurnalistik sebagai wadah mengasah kemampuan Jurnalistik para awardeenya, departemen PSDM (pengembangan sumber daya manusia) yang mana berkontribusi untuk menggali dan mengembangkan kemampuan hard maupun soft skills para awardeenya, departemen PSDE (pengembangan sumber daya ekonomi) yang mana berperan penting dalam mengusahakan kemandirian ekonomi organisasi dan juga mengembangkan skills wirausaha awardeenya, departemen P3M (pengembangan pesantren dan pengebdian masyarakat) yang berperan penting dalam pendekatan sosial kepada masyarakat luas dan juga menyebarkan kebermanfaatan , dan yang terakhir adalah departemen kominfo yang berperan dalam pendokumentasian kegiatan serta sarana untuk mengampanyekan CSSMoRA terkhusus pesantren agar dikenal lebih luas ke ranah publik.
Dengan adanya CSSMoRA UIN Sunan kalijaga dengan departemen dan segala kegiatannya seperti halnya seminar, pelatihan, dan diskusi ilmiah, diharapkan dapat menjembatani kolaborasi santri dengan dunia luar, seperti lembaga profesional dan komunitas lebih luas untuk meningkatkan kualitas keahlian dan relasi yang berguna bagi perkembangan pesantren kelak. Program tersebut juga membantu santri tidak hanya unggul dalam ilmu agama tetapi juga dalam ilmu pengetahuan umum dan teknologi.
Selain itu, dengan adanya CSSMoRA UIN Sunan kalijaga, mendorong para awardeenya untuk menjadi pemimpin yang berinovasi melalui program kaderisasi yang mereka agendakan, yang mana dalam program kaderisasi tersebut benar-benar diasah dan digali kemampuan serta minat dari para awardeenya. Hal ini dapat dilihat dari program KTPT (kaderisasi tingkat perguruan tinggi) yang diadakan oleh CSSMoRA UIN Sunan kalijaga di Kaliurang pada 29 November sampai 1 Desember 2024 kemarin.
CSSMoRA UIN Sunan kalijaga juga mengajarkan pada para awardeenya untuk tetap memegang teguh nilai-nilai pesantren sekaligus membuka diri terhadap kemajuan zaman. Hal ini terlihat dari tema-tema yang sering diangkat dalam kegiatannya, seperti pengintegrasian nilai-nilai Islam dalam teknologi dan kehidupan modern.
Dengan dukungan beasiswa dan pembinaan yang intensif, CSSMoRA diharapkan dapat melahirkan santri-santri yang kompetitif, baik di tingkat nasional maupun internasional. Yang mana tidak hanya unggul di bidang akademik, tetapi juga aktif dalam penelitian dan publikasi yang memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Keberadaan CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menjadi bukti bahwa generasi pesantren memiliki kapasitas besar untuk bertransformasi menjadi inovator, pemimpin, dan agen perubahan yang relevan di era global. Tidak hanya sekedar sebagai wadah balas budi beasiswa para awardeenya kepada KemenAg dan LPDP, ataupun sebagai wadah untuk mengembangkan kompetensi para awardeenya dalam pengabdian kelak, namun CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga sudah dianggap oleh para awardeenya, sebagai keluarga yang mana disatukan oleh visi dan misi yang sama. Rasa yang sama bahwa mereka berasal dari latar belakang bernama pesantren.
Seperti halnya dawuh dari KH. M. A. Sahal Mahfudz dalam kutipan pembukaan tersebut. Dalam prosesnya menyebarkan kebermanfaatan bagi masyarakat dan pesantren, para santri memulai perjuangan dan pengabdian mereka dengan berkecimpung dalam organisasi bernama CSSMoRA.
Oleh : Aulia Nur Faricha
