Namaku Ahmad Zayn, temanku biasa memanggil dengan sebutan “jen” aku dari Kota
Kembang, Bandung, Jawa Barat. Sekarang aku tinggal di Kota yang dulu jadi impianku,
Yogyakarta. Semoga ceritaku ini bisa mengibur kalian ya. Mari kita mulai cerita
perjalananku menemukan keluarga baru ditengah perantauan.
“Jen, kita kan sebentar lagi lulus yaa, kamu rencana lanjut kuliah dimana ?” Kata
teman dekatku, Aji. “Aku lagi usahain pengen ke Turki sii” ujarku, “bukannya kamu mau ke
Jogja ya ? Kan itu kota impianmu.”
“Kayaknya aku milih Turki aja dulu deh, lagian itukan impianku zaman masih tsanawiyah.
Kalau kamu rencana lanjut kemana ?”
“Padahal Jogja bagus tau, tapi ya ga masalah juga sii itu hak kamu.” Ujar Aji sambil nyengir
“Rencanaku aku pengen di Bandung aja lah, soalnya aku harus bantu keluarga aku juga.”
Tambahnya. “Sebenernya kita masih ada waktu satu tahun kan buat mikirin lanjut kemana,
kan kita wajib ngabdi.” Ujarku. “Iya juga yaa. Ya udah kita belajar buat ujian besok yuu
besok kan imtihan syafahi Bahasa Arab looh kan kamu gah suka hehe. ” Kata Aji ngeledek.
Aku menjawab malas “Ya udah ayo lah”. Kita pun pergi ke masjid lantai satu, di sana sudah
banyak sekali teman – temanku yang lagi belajar juga. Ya maklum yaa ini masa – masa ujian
akhir pasti ambis semua.
Ujian sudah beres, sekarang tinggal yudisium kelulusan dan itu ada fase dimana
seluruh santri akhir pasti deg – degan, karena hasil ikhtiar dan tawakkal mereka dibuktikan
disini. “Aduh… Aku takut nilaiku jelek jen.” “Kok pesimis gitu ? Gak bakalan nilaimu jelek,
kan kamu sering tuh belajar sampe malem, sholat malam, kemana – mana selalu bawa buku,
Ketika thobur kamu juga suka sambil belajarkan ? Udah yakin aja ji, Allah tau usaha kamu.”
Kataku menyemangati Aji, memang si dia selalu pesimis dalam segala hal padahal dia orang
yang hebat, dia selalu masuk peringkat 5 besar se-angkatan, lomba ini itu kesana kemari,
pokoknya dia orang hebat keren lah. Tibalah saat yang di tunggu – tunggu. Ustadz sudah
berdiri di atas mashroh kemudian membacakan nama – nama yang harus segera memasuki
ruang yudisium. “Nama – nama yang disebutkan harap untuk segera ke ruanga yudisium,
disana nanti ada asatidz lain yang akan mengarahkan yaa.” Ujar ustadz Rafi menggunakan
Bahasa arab, kita mengangguk ta’zim. “Aris Riswana, Muhammad Sofyan, Pahmi Ahmad
Habibi, Ahmad Zayn, Mochammad Seftiaji, Muhammad Rafsanjani, Ryanov Suta
Arjuna…..” Ketika disebut nama aku kaget waduh dipanggil pertama tandanya apa ya, karena
ustadz bilang nanti penggilannya bakal acak. Aku, Aji, dan 10 orang lainnya menuju ke
ruangan yudisium, entahlah 3 orang lagi siapa, aku sudah terlanjur masuk jadi gak
kedengeran nama setelah Ryanov. Setelahnya kami duduk diruangan yudisium, disana ada
masayikh yang sudah duduk di depan kami, suasana hening, dingin karena AC, tegang,
campur aduk pokoknya. Kemudian aku liat Kyai Endang mengambil mic di hadapannya lalu
berkata “Antum semua panggilan pertama, entah apa artinya, tapi kami harap panggilan
pertama ini membawa berkah untuk antum semua. Kalaupn nanti isinya tidak sesuai
keinginan, maka terimalah, karena itu berarti hasil yang terbaik untuk antum dari Allah.”
“Anak – anakku dengan mengucapkan basmallah silahkan untuk membuka amplop itu, ingat
itu hasil terbaik antum. ” Tambah Kyai Irwan. Aku dengan ragu – ragu sambil membaca
sholawat dan basmallah aku buka surat yag sudah ada dihadapanku sejak tadi, dan Ketika aku
buka aku langsung lihat kategori kelulusan, dan itu tertera “MUMTAZ” atau Lulus dengan
kategori Istimewa. Aku mengucap hamdalah dengan lirih sambil menahan nangis dan
berterima kasih kepada Allah, perjuanganku tidak sia – sia selama ini “Alhamdulllah Ya
Allah, terima kasih sudah menakdirkan aku bisa kuat menjalani ujian ini, dan
menganugrahkan kesabaran kepadaku hingga aku bisa sampai di titik ini.” Ucapku pelan
sambil nangis. Aku liat Aji sebelah kananku yang berjarak tiga orang juga menangis tersedu
– sedu dan dia juga lihat ke arahku, aku mengartikan tatapan itu “Alhamdulillah jen.” Aku
mengangguk pelan.
Setelahnya yudisium yang penuh haru itu, kami bergegas packing barang yang akan
dibawa pulang. Yaa di pondok kami setelahnya santri akhir menyelesaikan ujian langsung
pulang dan menunggu pengumuman mengenai penempatan pengbdian, juga di pondok kami
wisudanya setelah pengabdian. Setelahnya aku packing dan menunggu jemputan aku duduk
bersebelahan samping Aji, “Semoga kita ditempatin di tempat ngabdi bareng yaa, aku belum
siap buat jauh dari kalian loh.” “Aamiin, semoga yaa, dan kita bisa ngabdi di pondok ini
jugaa.” Sambung Rafsan, dia juga salah satu sahabatku seperti Aji. Waktu yang ditunggu pun
tiba, aku sudah dijemput, dan disana masih ada Sofyan dan Aris yang masih menunggu
jemputan “Aku dulun ya, yan, ris.” Ujarku sambil menyalami mereka. “Oh iya jen hati – hati
yaa, semoga kita satu tempat pengabdian pokoknya.” Balas Aris sambil tersenyum. “Aamiin”
kataku membalas sambil senyum. Aku pun menaikan barang – barangku dan mulai naik ke
dalam mobil. Aku pergi meninggalkan tempat pendidikanku yang sudah membuat memori
indah di dalamnya. “Aku pasti bakal Kembali.” Lirihku dan mulai meninggalkan gerbang
Pesantren.
Setelah menunggu hampir 2 minggu tibalah pengumuman penempatan pengabdian,
dan akhirnya aku terpilih jadi staff tata usaha, itu adalah wishlistku. Dan akhirnya aku gak
terpisah sama sahabat – sahabatku, semua di pondok ngabdinya. Aji dibagian keuangan
pondok, Rafsan dan Sofyan bagian multimedia, Aris dibagian Buku, dan Ryanov jadi staff
lughoh. Dalam surat itu kita harus tiba di Pondok sekitar satu minggu lagi.
Dalam melakukan pengabdian ini, pasti banyak sekali rintangan dan pembelajaran
yang aku dapatkan, sejak aku jadi staff tata usaha aku mendapatkan pembelajaran yang
sangat berharga mengenai bagaimana cara mengoperasikan Microsoft office dan umumnya
bagaimana cara mengoperasikan dan merawat computer.
Di tahun itu juga aku mendapatkan kabar yang kurang mengenakan yaitu aku gak
lulus ke Turki. Yaa mau bagaimana lagi, mungkin jalanku memang bukan kesana. Putus asa ?
Oh tentu, tapi aku berusaha untuk menerima dan move on. “Ji, aku gak lolos Turki” kataku di
meeting room sebelum rapat rutinan majelis guru pondok rapat. “Gapapa jen, Allah tau yang
terbaik buat kamu. Kan kamu sendiri yang bilang, kalo sesuatu itu gagal, pada hakikatnya
Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih indah daripada yang kamu inginkan. Allah lebih
tau mana yang akan membuat kamu Bahagia.” Balas Aji. Aku termenung mendengar
jawaban Aji. Beberapa hari setelah pengumuman itu, aku berusaha untuk menyibukkan diri,
salah satunya adalah dengan belajar SNBT (Seleksi Nasional Berbasis Tes) itu dalah seleksi
untuk masuk ke perguruan tinggi negeri. Dan akhirnya aku pun dinyatakan tidak lolos. Titik
terberatku sejauh ini adalah masa ini, aku sampai bertanya ke Allah “Ya Allah dosa apa yang
sudah saya lakukan hingga saya tidak bisa masuk ke universitas impianku. Jika memang aku
ditakdirkan untuk berkuliah, mencari ilmu-Mu, tolong berikan aku universitras yang Kau
ridhoi yang bisa membuatku lebih baik.” Dari sana aku terus mencoba semua tes masuk
universitas swasta, beasiswa dan tes tes lainnya. Dan hasilnya nihil, gak ada yang nyangkut
satu pun.
Setelah beberapa bulan kejadian – kejadian menyedihkan itu berlalu, ustadzku
menawarkan sebuah program beasiswa yang dibawah naungan Kementrian Agama Republik
Indonesia yang bernama Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB). Karena tekad untuk
berkuliahku kuat, dengan hati yang optimis aku mencoba daftar beasiswa tersebut tanpa
sepengetahuan orang tua dan keluargaku, yang tau aku daftar Cuma ustadzku, dan teman
dekatku saja. “Ji, aku daftar PBSB. Aku ditawarin sama ustadz Raffi.” Ujarku ke Aji. “Oh
bagus dong jen aku setuju banget. Aku yakin kalo ini kamu pasti lolos.” Jawab Aji. Aku
menjawab sambil menghembuskan napas “Kamu seyakin itu yaa aku lolos ? Aku sebenernya
gak yakin, Cuma aku yakin – yakinin aja. Ditambah juga nama beasiswanya “santri
berprestasi”, pasti awardeenya keren – keren. Lah aku, gak ada prestasi yang wow gitu.”
”Kok kamu jawabnya gitu sii, kamu itu udah pantes disebut berprestasi, Kamu selalu masuk
di kelas unggulan, selalu peringkat 5 besar selama 6 tahun kemarin, juara Speech Contest,
Juara Pramuka se-provinsi. Udahlah kamu tuh keren, itu Cuma overthinkingmu aja. Semangat
dong aku yakin kamu bisa” Balas Aji menyemangati. Aku membalas dengan senyuman yang
kaku. Dari sana aku mencoba untuk mengusir piikiran – pikiran yang membuatku pesimis.
Tibalah di masa – masa tes, tes pertama yaitu tes CBT, Ketika itu, keesokan harinnya
aku ada acara wisuda angkatanku, walaupun lagi sibuk – sibuknya menyiapkan wisuda, tetapi
aku mencoba untuk focus mengerjakan tes itu. “Mri, aku izin gak ikut gladi ya, aku ada tes
soalnya.” Aku izin ke ketua angkatanku, Amri. “Oh iya jen, aman. Sukses yaa” Jawabnya,
sambil mengacungkan jempol. Aku membalasnya dengan mengangkat jepol juga “Oke mri,
makasih.” Aku mengerjakan dengan hati – hati, walaupun ada sedikit masalah, tapi overall
aku bisa, alhamdulillah. Jarak satu minggu dari ujian tulis, pengumuman ke tahap interview
pun rilis. Dan liat namaku paling atas. Ahmad Zayn. Aku bersyukur, berterimakasih kepada
Allah tentunya. Dan disini aku masih belum memberi tahu ke keluargaku. “SELAMAT ! Bagi
teman – teman yang sudah lolos seleksi CBT, silahkan untuk menyiapkan interview nya yaa,
nanti bakal ada bimbingan dar kakak kelas antum yang sudah lolos PBSB ini agar tau
gambarannya bagaimana.” Tulis pesan ustadz Raffi dalam chat grup.
Setelahnya bimbingan interview bersama kakak kelasku, aku Bersiap untuk
menyambut interview tersebut. Tapi ada satu masalah yang aku hadapi, jadwal yang bentrok
ketika aku rihlah bareng teman angkatanku. Dihari pertama aku bisa melaluinya dengan
lancar, walupun dibagian kitab aku ngerasa kurang, dibagian Ilmu Nahwu dan Ilmu Sharaf,
ya karena aku gak suka pelajarannya hehe. Tapi aku tetap positive thinking bahwa aku bisa
lolos.
Untuk tes kedua dan ketiga yang aku bingungkan. Apakah aku ikut ke Bromo atau
interview. Malamnya aku dilema, sampai mamahku khawatir kepada ku, mamahku khawatir
karena bagaimana kalo aku tidak ikut tapi tidak lolos juga, kalo aku ikut tapi gak lolos masih
terobati dengan ikut ke Bromo. Tapi mamahku memilih tidak mengungkapkannya. Sampai
bapakku bilang “Jen, menurut kamu mana yang lebih penting ? Liburan atau wawancara ?
Kalo menurut bapak tentunya wawancara, mungkin kalo kamu nanti lolos bisakan liburan
kesana.” Aku tidak menjawab, hanya bergerutu dalam hati “Tapi momen terakhir bareng
temen – temen gak bisa diulang.” Setelah berpikiryang sangat lama, juga dengan segala
pertimbangannya aku memutuskan ikut ke Bromo dan aku yakin nanti aku bisa interview di
rest area. Oh ya, orang tua ku udah tau ya, karena waktu itu mereka nanya tentang rencanaku
kedepan mau giimana.
Tibalah hari dimana aku berangkat ke Bromo plus interview. Aku sambil deg – degan
dan menenangkan pikiranku, “Zayn kamu pasti bisa.” Dalam hatiku mengungatkan diri
sendiri. Setelah itu, alhamdulillah aku lancar dan bisa menyelesaikan interview itu. Ya
walaupun pasti dengan segala ke riwehan di dalam bus untuk menyiapkan materi, ketika
diatas bromo meninkmati sunrise sambil pikiran mikirin interview, dan juga alhamdulillahnya
aku dapet dispensasi untuk interview di rest area. Ya karena interview kedua aku masih di
dalam perjalan. Sekarang waktunya untuk bertawakkal kepada Allah, apapun hasilnya yang
penting aku udah berusaha semaksimal mungkin. “Jen, gimana interviewnya ?” tanya aji
lewat chat, karena dia beda bis denganku. “Alhamdulillah ji lancar, aman, jaya hehehe.
Do’ain yaa semoga lulus.” Jawabku. “In syaa allah, selalu jen. Bismillah aku yakin kamu
pasti lolos.”
Jarak satu minggu setelah masa – masa keriwehan interview itu, tibalah pengumuman
interview. Artinya jika aku lolos, aku akan menjadi awardee PBSB tahun 2024. Waktu itu
pengumumannya tengah malam dan setelah ada pengunduran 2 kali akhirnya ada konfirmasi
bahwa hari ini adalah pengumuman finalnya. Ketika itu aku berniaat membukanya nanti saja
setelah shalat shubuh karena aku gak suka begadang jadi aku udah ngantuk. Aku tidur seperti
biasa dan Ketika jam setengah dua belas aku bermimpi, aku lagi di rumah om ku dan banyak
orang yang datang ke rumah om ku untuk mengucapkan selamat kepadaku, disana ada
keluargaku, teman – temanku, mereka bilang “Jen kamu lolos jen.” “Selamat jen kamu lolos,
kamu ke Jogja.” Aku terbangun, itu seperti nyata, aku liat jam “ah, baru jam segini,
penguman belum bisa diakses.” Gumamku setengah sadar. Dan aku melanjutkan tidurku.
Setelah aku Kembali tidur, mimpi itu datang Kembali dan bersambung. Biasanya mimpiku
gak suka bersambung seperti ini. Dilatar tempat yang sama, keluargaku memeberi selamat
kepadaku “Jen kamu ke Jogja, akhirnya.” ”Jen, buka pengumumannya, kamu lolos.” Dari
sana aku langsung terbangun dan melihat jam menunjukkan setengah satu dini hari. “Aduh
pengumumannya udah bisa diakses, aku buka sekarang gak ya ?” Gumamku. Aku
memutuskan untuk membukanya saat itu, dengan membaca basmallah aku membuka
websitenya, kemudian memasukan username dan password. Sambil membaca basmalah dan
dengan hati yang gak karuan ditengah malam itu aku meng klik menu hasil, dan disana ada
tulisan besar “KEPADA AHMAD ZAYN, SELAMAT ANDA DINYATAKAN LULUS
SELEKSI PENERIMA BEASISWA SANTRI BERPRESTASI.” Aku loncat kegirangan, dan
teriak tidak bersuara, karena itu Tengah malam, aku sebisa mungkin mengontrol suaraku agar
tidak terdengar oleh orang tuaku, aku ngabarin Aji, “Aji aku lolos ji !!” Setelah itu aku mulai
meneteskan air mata, ternyata benar Allah telah menyiapkan yang lebih indah untukku, aku
menuju kamar mandi untuk wudhu dan sujus Syukur, juga shalat tahajud. Dalam sujudku aku
berkata dalam hati. “Ya Allah terimakasih telah memberiku kesempatan untuk mencari ilmu –
Mu, maafkan hamba Ya Allah telah ber suudzon kepada – Mu, aku yakin ini pillihan
terbaikmu untukku, kuatkan aku Ya Allah dalam menjalankan amanat ini, kuatkan aku dalam
menjaga kepercayaan ini Ya Allah. Terima kasih banyak Ya Allah, Alhamdulillah.” Tidak
henti – hentinya aku bersyukur kepada Allah. Keesokan siangnya aku mengabari seluruh
keluargaku, dan kalian tau kan siapa yang paling histeris, yap itu mamahku, dia sangat
bersyukur. Dan ya aku sadari salah satu yang membantu aku adalah mamahku, aku tidak tau
jika segala proses ini tidak dibarengi dengan do’a seorang ibu, aku tidak yakin akan ada di
posisi ini sekarang.
Dan ya itulah ceritaku, tentang perjuangan yang sangat berat menurutku, sampai aku
menjadi awardee PBSB dan bergabung dengan keluarga baruku yang sangat hangat,
CSSMoRA. Ingat teman – teman Allah sudah berfirman dalam surat Al – Baqarah ayat 216
“Boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu
menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” Semua ada waktunya, jangan berputus asa untuk selalu melibatkan Allah dalam
segala hal, karena semua yang terjadi d dunia ini, ada campur tangan Sang Maha Mengatur.
Terimkasih buat diriku yang sudah kuat menjalani kehidupan sejauh ini, aku tidak tau akan
seperti apa di depan sana. Tapi aku sudah siap dengan segala cobaan yang akan datang
kepaku selama Allah dan orang tuaku aku libatkan dalam segala sesuatu. Dan ingat “Allah
lebih tau kemana garis hidup kita akan digambarkan, tugas kita hanya berikhtiar dan
bertawakkal.”
Terimakasih sudah mau mendengarkan ceritaku, aku Ahmad Zayn seorang
mahasiswa di kota pelajar dan kota impianku, Yogyakarta.
Oleh : Pahmi Ahmad Habibi
