Teman selalu punya cara
membangkitkan kenangan.
Kebersamaan yang mulai memudar itu
seperti kanvas tempat waktu melukis
masa lalu, perlahan-lahan namun
pasti. Di rumah joglo dekat
perkebunan salak, dimana sejauh mata
memandang hanya hamparan luas
perkebunan salak yang terlihat, syauqi
duduk sendirian. Jemari nya fokus
pada sebuah foto lama di handphone
Android baru itu, memperlihatkan
sepasang wajah berseri tersenyum
lebar.
“Aku tidak tahu kenapa aku
memandang foto bersama kita terlalu
lama, mungkin aku sedang kangen
kalian, ” Gumamnya pelan, seolah berbicara pada masa lalunya sendiri.
Joglo itu adalah saksi bisu banyak tawa, janji, dan diam-diam, air mata yang tak pernah sempat
jatuh. Waktu telah berlalu begitu cepat, meninggalkan jejak jejak yg kini terasa samar. Tapi
malam itu, ketika hujan datang dengan dinginnya malam, syauqi merasa waktu berhenti sejenak,
membiarkan menguliti ingatan yang selama ini tersimpan rapat.
Mungkin, sebagian kenangan memang tidak pernah benar-benar pergi, namun ia akan tetap
abadi.
Di tengah lamunannya, ingatan Syauqi mulai melayang ke suatu malam bertahun-tahun lalu. Di
joglo yang sama, ia dan teman-temannya, Rama, Riyan, Dafit, Lian, dan Fauzan berkumpul
sambil menikmati segelas teh hangat, kopi dan sepiring pisang goreng yang baru saja digoreng
oleh Rama.
“Tahu nggak,” ujar Rama sambil menggoyang-goyangkan gelas tehnya, “kita harus bikin janji.
Beberapa tahun kedepan, saat kita sudah kembali ke daerah asal kita harus berkumpul bersama
lagi seperti saat ini. Dan yang paling sukses harus mentraktir semuanya, saat itu akulah
orangnya, hahaha, “
Riyan tertawa keras tidak mau kalah, hampir membuat teh di cangkirnya tumpah. “Baiklah sudah
pasti aku akan mentraktir kalian semua, pokoknya aku pasti akan sukses, dan saat waktu itu tiba,
kalian semua harus datang! “
Dafit mengangguk setuju. “Iya, ya. Kalau Riyan yang nggak datang, aku yang akan
menggantikannya”
“Hahahahahahaha” Semuanya tertawa bersama
Mereka tertawa bersama, membuat suasana joglo dipenuhi suara bahagia. Tapi di balik tawa itu,
Syauqi tahu ada kehangatan yang tidak bisa digantikan. Hari-hari itu terasa begitu sederhana
namun berharga, seperti pelangi setelah hujan, indah sesaat namun membekas di hati saat sudah
terlewat.
“Kalian serius, nggak, sih?” Rama pura-pura merajuk, tetapi senyumnya tetap terlihat.
Syauqi menatap mereka satu per satu dan berkata, “Aku nggak tahu apakah nanti kita benar-
benar sukses dan bisa berkumpul bersama, Tapi yang pasti, aku nggak mau kehilangan kalian.”
Lian yang sedari tadi sibuk menulis di buku catatannya akhirnya angkat bicara. “Bagaimana
kalau kita bikin nama yang nggak cuma keren, tapi juga punya makna?””Benar, tapi apa ya?”
Riyan menggaruk kepalanya, seperti memikirkan sesuatu yang mendalam.
Syauqi, yang sejak tadi diam, tiba-tiba menyahut. “Bagaimana kalau kita pakai nama yang
mencerminkan siapa kita? Kita kan semua penerima beasiswa Kementerian Agama, dan kita ini
dari berbagai pesantren. Nama itu harus mengingatkan kita pada tujuan awal kita berkumpul di
sini.”
Ruangan itu hening sejenak, sebelum Fauzan berseru, “CSS MoRA UNGU! Community of
Santri Scholars MoRA! Itu kan identitas kita!dan warna ungu menggambarkan kebersamaan
kita””Bagus juga!” Rama bertepuk tangan, diikuti oleh teman-temannya.”Itu bukan cuma nama,
tapi juga pengingat bahwa kita nggak cuma belajar untuk diri sendiri. Kita di sini untuk
membawa perubahan, untuk agama, keluarga, dan masa depan,” tambah Syauqi dengan senyum
kecil.
Malam itu, dengan semangat muda yang menggebu, mereka resmi menamai grup kecil mereka
CSS MoRA UNGU. Nama itu sederhana, tetapi di dalamnya tersimpan harapan besar. Mereka
tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi satu hal yang mereka yakini persahabatan
ini akan menjadi cerita yang tak pernah terlupakan.
Beberapa tahun kemudian, kini syauqi menjadi seorang bos meubel, di sebuah kota pesisir utara
pulau jawa, Jepara. Ia hidup bahagia bersama anak istrinya. Syauqi duduk santai sambil bermain
bersama putranya di depan teras. Ia baru saja mengirim sebuah pesan di grup WhatsApp lama
mereka, CSS MoRA UNGU namanya. Sebuah nama grup yg diambil dari organisasi santri yang
menaungi mereka. meskipun tanda centang dua biru belum kunjung muncul di samping
namanya, ia masih menunggu jawaban pesan dari teman onlinenya.
“Rama, Riyan, Dafit, Lian, Fauzan, Iqbal.. masih ingat janji kita dulu? Kalau kalian membaca
ini, aku ingin kita kumpul bersama seperti janji kita dulu, berbagi cerita, bercanda, tertawa
bersama. Aku tunggu kalian, kapan pun kalian siap. “
Dafit membalas lebih dulu. “Tentu, Qi! Aku malah sudah lama nunggu ajakan ini. Kita harus
kumpul!”
Disusul Rama, dengan gayanya yang penuh candaan. “Asal yang traktir kamu ya, bos Jepara!
Hahaha.”
Lian, Iqbal dan Riyan juga merespons, masing-masing mengungkapkan kerinduan mereka
terhadap masa-masa itu. Namun, seperti yang Syauqi duga, Fauzan tetap diam seperti biasa. Tak
ada balasan, tak ada tanda kehadiran. setelah beberapa tahun fauzan memang yang paling terlihat
diam di antara semuanya, menyembunyikan diri. Bahkan, saat syauqi mencoba menelepon,
nomor Fauzan tidak aktif. Syauqi menghela napas panjang. Di balik senyum kecil yang ia
paksakan, ada rasa hampa yang sulit ia abaikan. Fauzan, di mana kamu sekarang? pikirnya.
Dia memejamkan mata, membayangkan kembali malam penuh tawa itu, ketika mereka semua
bersumpah untuk berkumpul kembali, tidak peduli seberapa jauh waktu memisahkan. Namun,
kenyataan tidak pernah sesederhana itu. Sibuk, lupa, atau bahkan mungkin enggan alasan-alasan
itu seperti tembok yang perlahan membatasi hubungan mereka.
Dan malam itu, di bawah langit yang penuh bintang, Syauqi bersumpah pada dirinya sendiri: Jika
mereka tidak datang, aku yang akan mendatangi mereka satu per satu. Aku tidak mau kenangan
ini hanya jadi cerita usang yang terlupakan
Setelah memastikan bahwa semua temannya sudah setuju untuk berkumpul kembali, kecuali
Fauzan yang tak kunjung memberi kabar, Syauqi merasa ada yang kurang. Pesan WhatsApp
tidak dijawab, panggilan telepon tak tersambung, bahkan media sosial Fauzan tampak sunyi
tanpa aktivitas selama bertahun-tahun.
Sore itu, setelah selesai mengurus pesanan meubelnya, Syauqi memutuskan sesuatu. Ia harus
mencari Fauzan. Bukan hanya untuk menepati janji mereka, tapi karena ia tak ingin persahabatan
ini berakhir dengan kehilangan yang tak terjelaskan.
Bermodal ingatan lama, ia mencoba mencari petunjuk dari satu-satunya informasi yang ia tahu,
alamat kampung halaman Fauzan di sebuah desa kecil di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa
Timur, Tuban.
Perjalanan dimulai dipagi hari, suasana segar membuat syauqi merasa semangat untuk menemui
temannya fauzan. Dengan mobil yang biasa ia gunakan untuk mengirim pesanan meubel di luar
kota. Butuh beberapa jam untuk sampai ke rumah fauzan, ia harus menuju timur Jepara ke arah
kota Pati, dan Rembang. Ia melewati hutan karet di daerah Keling, pabrik udang di daerah
Bulumanis, dan pabrik garam di daerah Kaliori, ini mengingatkannya pada saat ia mondok dulu
di daerah Kediri Jawa Timur.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya syauqi sampai di sebuah desa yang disebutkan oleh
fauzan dulu, tertulis sebuah nama, ” Jetis wangi”. Ia melihat seorang bapak bapak yang sedang
istirahat, mereka bercengkrama sambil makan bersama atau dalam bahasa jawa biasa disebut
istilah ngaso.
“Permisi, Pak,” Syauqi menyapa seorang lelaki tua yang sedang duduk sambil menyeruput kopi.
“Apa Bapak kenal dengan Fauzan? Dia tinggal di desa ini.”
“Maaf mas, fauzan yang mana ya? Di sini nama fauzan ada dua soalnya mas”, mengernyitkan
dahi, bingung.
” Yang dulu pernah mondok di kediri pak, lulusan pesantren”, jelas syauqi
“Maaf mas, mereka berdua satu pondok juga” Kata bapaknya lagi.
“Oh atau gini aja, mas, disini kan fauzan itu ada dua, nah bagaimana kalo saya kasih tau alamat
mereka, nanti bisa tanya tetangga di daerah sini, biar nggak bingung mas nya”, sahut bapak
bapak yang lain
“Oh, gitu juga boleh pak”, jawab syauqi
Setelah itu, bapak bapak itu menjelaskan alamat milik fauzan pertama, ia berada di sebuah ujung
gang disamping jembatan yang terbuat dari kayu. Syauqi juga diberi pesan,” Jika nanti keliru
dengan fauzan yang dimaksud, mas nya bisa langsung tanya alamat fauzan ke mas fauzan juga,
mereka kan satu pondok”.
Syauqi mulai menuju alamat yang telah disebutkan bapaknya, setelah hampir sampai diujung
gang, syauqi kaget dengan keadaan rumah yang disebutkan begitu ramai para warga yg sedang
melayat. Ia panik, tidak menyangka temannya telah meninggalkan nya saat ia berhasil
menemukan nya. Ia segera menghampiri orang orang yang sedang berkumpul, “maaf pak, kalo
boleh tahu, siapa ya yang meninggal?”, tanya syauqi panik
“fauzan mas! “
“Kalo boleh tahu nama lengkapnya siapa ya pak? Apakah namanya Muhammad Ahmad
Fauzan?” Tanya syauqi lagi meyakinkan
“Oh bukan, nama lengkapnya Ferdi Fauzan mas, oh iya apakah masnya mau nyari rumah nya
mas Muhammad Ahmad Fauzan? Jelas bapaknya
” Iya pak, saya sedang mencari rumah teman saya Fauzan “
“Oh kalo begitu rumahnya ada di sebelah utara sini mas, nanti cukup ikuti jalan ini sekitar dua
kilometer, jika nanti ada puskesmas, samping nya itu rumah mas Fauzan”, jelas bapaknya lagi
Mendengar jawaban dari bapaknya, syauqi merasa hatinya tenang, karena yang meninggal bukan
teman yang sedang ia cari. kini ia bisa meneruskan perjalanan untuk ke rumah fauzan.
Syauqi melanjutkan perjalanan dengan hati yang sedikit lebih tenang. Ia mengikuti petunjuk
bapak tadi, menyusuri jalan kecil yang berkelok di antara persawahan hijau dan pohon-pohon
kelapa. Udara sore terasa sejuk, dan suara burung-burung yang pulang ke sarang menambah
suasana damai. Namun, jauh di dalam hatinya, ada kegelisahan yang tak sepenuhnya hilang.
Setelah sekitar dua kilometer, seperti yang dijelaskan, ia melihat sebuah bangunan puskesmas
kecil di tepi jalan. Di sebelahnya, sebuah rumah sederhana berdiri dengan halaman luas yang
tampak terawat. Ada beberapa anak kecil bermain di halaman, dan seorang wanita yang
dikenalnya sedang menyapu teras, istri fauzan, Hamidah. Syauqi menghentikan mobilnya di
depan rumah itu, lalu keluar dengan penuh harap.
“Assalamualaikum,” sapa Syauqi sopan sambil mendekati wanita tersebut.
“Waalaikumsalam, Mas Syauqi. Kok bisa sampai sini mas?” jawab wanita itu, tersenyum ramah.
“Maaf, Dah. Saya mencari suamimu Fauzan. Apakah ia ada dirumah?”
Wajah wanita itu seketika berubah cerah. “Oh, ada mas, monggo masuk. Tapi, sebentar ya, mas
Fauzan sedang di belakang. Saya panggilkan dulu.”
Syauqi merasa lega. Akhirnya, setelah perjalanan panjang dan perasaan cemas yang menghantui,
ia sampai di tempat yang tepat. Ia menunggu dengan sabar di depan rumah, memperhatikan
suasana sekitar. Rumah itu sederhana, tapi terlihat penuh kehangatan, dengan tanaman hias di
sepanjang teras, foto keluarga, foto saat saat masih dipondok, dan foto kebersamaan saat itu.
Tak lama kemudian, seorang pria keluar dari belakang rumah. Syauqi segera mengenali wajah
itu, meski kini lebih dewasa dan sedikit lelah dibanding terakhir kali mereka bertemu.
“Syauqi?” Fauzan berkata dengan nada tak percaya, matanya membesar.
“Zan! Lama sekali, ya!” jawab Syauqi sambil tersenyum lebar, langsung memeluk temannya.
Fauzan tertawa kecil, tampak terkejut sekaligus bahagia. “Ya Allah, Qi. Kok kamu bisa sampai
sini? Ada apa?”
Syauqi melepas pelukan dan menatap Fauzan dengan serius. “Aku mencari kamu, Zan. Sudah
lama kamu nggak kasih kabar. Semua teman-teman kita kangen, dan kita sudah rencanakan
kumpul bareng. Tapi kamu yang nggak bisa dihubungi.”
Fauzan menghela napas dan tersenyum tipis. “Maaf, Qi. Hidupku berubah banyak setelah aku
berpisah dari orang tuaku. Aku… sibuk dengan urusan keluarga dan kerjaan, sampai lupa
menjaga hubungan dengan kalian. Hanphone ku rusak parah, semua nomor, foto, video hilang
dan media sosial nggak pernah aku buka lagi.”
Syauqi mengangguk, berusaha memahami. “Tapi seharusnya kau tidak diam, kami semua bisa
membantumu”.
Fauzan tersenyum hangat, lalu menepuk bahu Syauqi. “Terima kasih untuk teman-teman yang
menghawatirkanku, sampai mencariku jauh jauh kesini. Karena kamu sudah sampai sini, aku
akan dating ke acara kita Bersama Hamidah dan anak anak. Tapi sebelum itu, ayo masuk dulu.
Kita cerita-cerita dulu, pasti banyak cerita darimu yang sangat menarik kali ini”.
Sebelum mereka masuk ke dalam rumah, Syauqi merangkul leher fauzan sambil berkata”Oh iya,
janjimu tentang cerita pertemuanmu dengan Hamidah belum kamu ceritakan. Kali ini kamu
harus menceritakan secara lengkap bagaimana kalian bisa kenal hingga menikah. Soalnya kami
semua ingin tahu bagaimana pertemuan kalian.
Di mana kehangatan persahabatan yang sempat hilang mulai kembali terjalin. Hari itu, Syauqi
merasa perjalanannya tidak sia-sia. Ia berhasil menemukan puzzle teman yang lama menghilang,
bukan hanya sebagai teman, tetapi sebagai bagian dari kenangan yang harus terus dirawat.
Saat Fauzan hendak bercerita” jadi gini Qi, saat itu kita membuat janji bersama untuk berkumpul
lagi di masa depan. Nah setelah itu ada sedikit pertemuanku dengan Hamidah…”, belum selesai
ucapan Fauzan, Hamidah datang membawa dua gelas kopi dan pisang goreng, “monggo mas
Syauqi”. Kata Hamidah sekaligus penutup cerita tentang pertemuan Fauzan dengan Hamidah.
“Waduh, gagal lagi gagal lagi”, ujar Syauqi
Oleh : Muhammad Nail Azizi
