Oleh : Kayla Sabbina
Sebelum kaki menapak jejak di ranah pesantren,
setumpuk asa tertutup kabut ragu dalam kesunyian.
Keyakinan pada diri dan Tuhan tak setinggi ilalang di rerumputan.
Sekedar mencapai asa pun tak memiliki kepercayaan.
Katakan saja, bermimpi tanpa iman.
Namun hari ini,
tak lagi malu menengadahkan tangan setinggi kepala.
Dibawah tamaram atap pesantren dan diamnya renjani,
kulangitkan gundah yang membebani hati.
Kusampaikan beribu asa yang tampak abra dalam bayangan sepi.
Disini, semua mereka berlomba, bersahaja, namun penuh asa.
Menabung do'a disetiap hela nafasnya.
Agar impian menjelma didepan mata.
Santri, dengan sejuta iman yang bersemayam di dadanya,
melangkah teguh dengan keyakinan yang mengakar,
bahwa asa bukan sekadar fatamorgana, melainkan cahaya yang menuntun perjalanannya.
Dengan iman, ilmu, dan adab yang memperindah sayap-sayap mereka,
mereka terbang menggapai asa di langit harapan
