Bayangkan sebuah pemandangan yang mungkin sudah tidak asing lagi: seorang santri duduk di hadapan sebuah kitab berbahasa Arab yang terbuka, tetapi matanya justru sibuk menatap layar ponsel. Jemarinya bergerak lincah menyalin ‘ibarah Arab, mengirimkannya kepada kecerdasan buatan, lalu menunggu beberapa detik. Ting! Terjemahan muncul. Penjelasan menyusul. Bahkan, jika diminta, AI bisa menyusun kesimpulan yang panjangnya melebihi catatan pengajian semalam suntuk.
***
Sebagai mahasiswa yang akrab dengan teknologi, saya mengakui bahwa kemudahan ini sulit ditolak. Di tengah tugas yang bertumpuk seperti gunung dan tenggat waktu yang berlari seperti dikejar-kejar sesuatu, AI terasa seperti penyelamat yang turun tepat waktu. Ketika kepala sudah penuh dan pikiran mulai buntu, satu pertanyaan sederhana bisa mendatangkan jawaban sepanjang beberapa paragraf.
Namun, di tengah pesta kemudahan itu, saya justru dihantui sebuah pertanyaan: apakah kita benar-benar sedang semakin pintar, atau hanya semakin pandai menemukan jalan pintas menuju jawaban? Sebab, ada sesuatu yang menggelisahkan ketika jawaban bisa datang secepat kilat, sementara pemahaman membutuhkan kesabaran yang tak bisa dipaksa berlari.
Ketika Sebuah Kitab Berhadapan dengan Tombol Salin
Dahulu, satu ibarah yang sulit dipahami bisa menjadi urusan panjang. Kamus dibuka, halaman dibolak-balik, makna gandul dicoba, lalu dicoret lagi karena ternyata tidak cocok. Kita bertanya kepada teman, berdiskusi dengan sesama santri, atau menunggu kesempatan untuk meminta penjelasan kiai dan ustadz. Kadang-kadang, satu kalimat saja cukup membuat kita berkutat berjam-jam.
Sekarang? Cukup salin, tempel, kirim.
Dalam sekejap, ibarah yang semula tampak seperti hutan belantara bisa berubah menjadi jalan beraspal yang mulus. Rasanya seperti memiliki guru yang berjaga dua puluh empat jam, tidak pernah mengeluh ketika ditanya berulang kali, dan tidak pernah meminta kita menunggu giliran.
Tetapi, justru di sinilah persoalannya bermula.
Ketika semua terasa mudah, kita berisiko menganggap bahwa usaha memahami ilmu adalah pekerjaan yang bisa diserahkan kepada mesin. Kita mulai terbiasa menerima hasil tanpa menelusuri prosesnya. Kita merasa cukup membaca terjemahan tanpa membuka penjelasan yang lebih mendalam. Bahkan, jangan-jangan, kitab yang ada di hadapan mata hanya kita buka untuk menyalin teksnya, sementara urusan memahami kita serahkan sepenuhnya kepada layar.
Tentu, menggunakan AI bukan sebuah dosa intelektual. Teknologi memang menawarkan bantuan yang nyata. Persoalannya bukan pada seberapa canggih AI, melainkan pada seberapa jauh kita bersedia menyerahkan pekerjaan berpikir kepadanya.
Sebab, AI juga bisa keliru. Ia bisa memberikan terjemahan yang terdengar sangat meyakinkan, tetapi meleset dari konteks. Ia bisa menyusun penjelasan yang rapi seperti tulisan seorang ahli, padahal ada bagian yang perlu diperiksa ulang. Ada konteks yang harus diperhatikan, pendapat ulama yang perlu dibedakan, serta penjelasan yang tidak selalu bisa diringkas menjadi satu kesimpulan sederhana. Jika semua itu dipangkas demi jawaban yang cepat dan praktis, kita mungkin memperoleh pemahaman yang terasa lengkap, padahal sebenarnya baru menginjak anak tangga pertama.
Jangan sampai kita begitu sibuk menghemat waktu belajar hingga lupa bahwa belajar memang membutuhkan waktu.
Jangan-Jangan, yang Mengaji Hanya AI-nya
Dalam tradisi pesantren, mengkaji bukan sekadar kegiatan memindahkan bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Ada proses menyimak, menelaah, mengulang, bertanya, dan sesekali berdebat tentang persoalan yang tidak selesai hanya dengan satu jawaban. Ada kalanya kita merasa sudah paham, tetapi penjelasan guru justru membuka sepuluh pintu pertanyaan baru. Proses itu memang tidak selalu menyenangkan. Tidak semua penjelasan langsung masuk ke kepala. Kadang-kadang, kita harus mengakui bahwa setelah belajar berjam-jam, masih ada bagian yang belum kita pahami.
Namun, bukankah justru di situlah kita belajar menjadi pencari ilmu?
Memahami ilmu bukan sulap yang membuat ketidaktahuan lenyap begitu saja setelah sebuah jawaban muncul. Ia adalah proses yang menuntut ketekunan, ketelitian, dan kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita belum tahu. Kalau setiap kesulitan langsung kita lemparkan kepada AI, jangan-jangan kita sedang kehilangan kesempatan untuk melatih kemampuan yang seharusnya tumbuh melalui kesulitan itu sendiri.
Menurut saya, santri tidak perlu memusuhi teknologi. AI justru bisa menjadi teman diskusi yang membantu kita mengenali kosakata asing, mendapatkan gambaran awal, atau menyusun pertanyaan sebelum bertemu guru. Kita bahkan bisa memanfaatkannya untuk membandingkan penjelasan dan menemukan bagian yang masih membingungkan.
Tetapi, setelah AI menjawab, pekerjaan kita belum selesai. Justru saat itulah pekerjaan berikutnya dimulai: memeriksa sumber, membuka kitab asli, membaca syarah, bertanya kepada guru, dan memastikan bahwa jawaban yang terdengar indah itu benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Jangan biarkan AI menjadi satu-satunya pihak yang sibuk berpikir, sementara kita duduk nyaman sebagai penonton yang tinggal bertepuk tangan setiap kali jawaban muncul.
Hari Santri di Tengah Banjir Jawaban
Setiap 22 Oktober, kita memperingati Hari Santri. Kita mengenang perjuangan, keteguhan, dan kontribusi santri dalam perjalanan bangsa. Namun, peringatan ini juga seharusnya menjadi ruang untuk bertanya tentang tantangan yang sedang kita hadapi hari ini.
Jika dahulu persoalannya adalah keterbatasan akses terhadap sumber pengetahuan, sekarang kita justru hidup dalam keadaan yang nyaris berlawanan. Informasi datang seperti air bah. Penjelasan tersedia dalam sekali klik. Berbagai persoalan seolah memiliki jawaban yang siap disajikan kapan saja.
Di tengah banjir informasi ini, santri tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi yang mahir. Kita juga harus menjadi pembaca yang teliti, penanya yang kritis, dan pencari ilmu yang tidak mudah puas dengan jawaban pertama.
Sebab, menjaga tradisi keilmuan pesantren bukan berarti membekukan masa lalu dan menolak segala sesuatu yang baru. Tradisi justru perlu terus dihidupkan dengan cara yang relevan, tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. AI boleh membantu kita membaca kitab apapun, tetapi semangat menelaahnya tidak boleh ikut digantikan. Teknologi boleh memudahkan penjelasan, tetapi tanggung jawab memahami ilmu tidak bisa dipindahkan begitu saja.
Jangan sampai, pada suatu hari nanti, kitab-kitab tetap terbuka di hadapan kita, layar ponsel terus menyala, dan jawaban demi jawaban terus bermunculan, tetapi tidak ada lagi kegelisahan intelektual yang membuat kita ingin membaca lebih jauh. Jangan sampai kita memiliki akses terhadap pengetahuan yang begitu luas, tetapi hanya mengambil bagian yang paling mudah, paling singkat, dan paling cepat selesai.
Sebab, santri bukan sekadar orang yang mampu menghasilkan jawaban. Santri juga harus belajar memahami alasan di balik jawaban, mengenali batas pengetahuannya, dan bertanggung jawab atas ilmu yang disampaikannya.
Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar apakah santri masih perlu berpikir ketika AI sudah mampu memberikan jawaban.
Pertanyaan yang lebih mengusik adalah: jika AI semakin pintar menjawab, apakah kita akan semakin rajin berpikir, atau justru semakin lihai menghindarinya?
Saya percaya, masa depan tradisi mengkaji kitab tidak ditentukan oleh seberapa cepat AI menerjemahkan sebuah ibarah. Ia juga ditentukan oleh apakah kita masih bersedia duduk lebih lama di hadapan kitab, mengulang kalimat yang belum dipahami, mengajukan pertanyaan yang belum terjawab, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua ilmu bisa dikuasai dalam sekali duduk.
Teknologi boleh membuat jalan menuju jawaban semakin pendek.
Namun, jangan sampai layarnya semakin canggih, tetapi daya pikir kita justru semakin pucat.
Penulis: Nur Fadhila Zahrany Alfaruq