Sebagai Gen Z yang akrab dengan layar ponsel, saya belakangan merasa beranda media sosial seperti katalog masalah yang tak ada habisnya. Kalimantan berselimut asap karhutla, Jambi mencatat kualitas udara yang mengkhawatirkan, Sumatera Barat berjuang menghadapi banjir dan longsor, sementara warga Makassar hingga Bali harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan BBM.
Dari langit yang menghitam hingga jalanan yang penuh dengan antrean kendaraan, kabar buruk datang silih berganti dari berbagai penjuru negeri. Rasanya, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Namun, di tengah rentetan kabar itu, saya justru bertanya-tanya: bagaimana dengan Jogja, kota yang selama ini lekat dengan citra nyaman, damai, dan istimewa? Apakah kota ini benar-benar terbebas dari persoalan lingkungan, atau kita saja yang terlalu sibuk menikmati keistimewaannya hingga luput melihat masalah yang ada di depan mata?
Jogja yang Terlihat Baik-Baik Saja
Namun, apakah semuanya benar-benar baik-baik saja? Atau jangan-jangan, kita terlalu terbiasa dengan keadaan sekitar hingga luput menyadari perubahan yang sedang terjadi?
Sebagai mahasiswa yang setiap hari menempuh perjalanan Kalasan–UIN Sunan Kalijaga, saya cukup akrab dengan terik matahari Jogja yang terkadang terasa seperti sedang menguji kesabaran manusia. Belum lagi kepulan asap dari “cumi darat”, sebutan jenaka untuk Trans Jogja, yang sesekali menemani perjalanan. Semua itu seolah sudah menjadi bagian dari rutinitas: kepanasan, berdebu, berkeringat, lalu tiba di kampus dan menjalani aktivitas seperti biasa. Seakan-akan, tidak ada yang membuat khawatir selain dari cuaca Jogja yang selalu terik, hingga membuat wajah makin kusam oleh sengatan matahari, dan badan yang lengket oleh keringat.
Namun, belakangan ini, ada sesuatu yang membuat saya mulai memperhatikan keadaan di sekitar. Kemarau yang berkepanjangan perlahan-lahan memperlihatkan sisi lain dari panasnya Jogja. Lapangan Sembego di kawasan Maguwoharjo, yang biasanya tampak hijau dan menyegarkan mata, kini berubah menjadi kuning pucat. Sawah-sawah yang saya lewati juga mulai kehilangan warna hijaunya. Di beberapa tempat, tanah terlihat mengering, bahkan retakan-retakan di permukaannya tampak jelas.
Tak berhenti di situ, asumsi saya ini juga mendapat persetujuan ketika melihat pemandangan beberapa lapangan tempat rekreasi. Sebagian besar tempat kunjungan turis dalam negara itu berada dalam keadaan pucat kering.
Pemandangan yang sebelumnya mungkin hanya saya anggap sebagai bagian biasa dari musim kemarau, kali ini terasa berbeda. Ada perubahan yang tak lagi sekadar membuat perjalanan terasa lebih panas, tetapi juga mengundang pertanyaan tentang kondisi lingkungan di sekitar kita.
Bahkan, Selokan Mataram, yang selama ini identik dengan aliran air dan menjadi bagian dari lanskap kehidupan masyarakat Jogja, tampak mengering di beberapa bagian yang saya amati. Pemandangan itu membuat saya berpikir: jangan-jangan, selama ini kita terlalu terbiasa mengeluhkan panasnya Jogja sampai lupa memperhatikan apa yang sesungguhnya sedang terjadi di sekitar kita.
Ketika Kemarau Bukan Lagi Sekadar Cuaca Panas
Barangkali, inilah salah satu cara bencana datang tanpa banyak suara. Bencana tidak selalu hadir dalam bentuk gempa yang mengguncang bangunan, erupsi yang menyemburkan abu, atau banjir yang merendam permukiman. Terkadang, bencana datang perlahan melalui tanah yang kehilangan kelembapannya, tanaman yang menguning, dan sumber air yang mulai menyusut. Semuanya berlangsung begitu pelan hingga kita baru menyadarinya ketika perubahan itu telanjur terasa.
Pengamatan saya ternyata bukan sekadar keluhan seorang mahasiswa yang kepanasan saat berangkat kuliah. Data resmi juga menunjukkan bahwa Jogja sedang menghadapi persoalan kekeringan yang perlu mendapat perhatian serius. Berdasarkan laporan BMKG yang dari Tugu Jogja, hingga 10 Oktober 2026, Kabupaten Sleman dan Kota Yogyakarta sama-sama tercatat mengalami 118 hari tanpa hujan. Sementara itu, Kabupaten Bantul mencatat periode yang lebih panjang, yakni 161 hari.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa kemarau bukan lagi sekadar urusan matahari yang membuat kulit terasa makin terbakar selama perjalanan ke kampus. Ada persoalan lingkungan yang perlu kita pahami lebih serius, terutama ketika ketiadaan hujan berlangsung dalam waktu yang panjang.
Kondisi ini juga mendapat perhatian dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY. Pada periode 21–30 September 2026, wilayah DIY, termasuk Sleman dan Kota Yogyakarta, dilaporkan berada dalam status Awas Kekeringan Meteorologis. BPBD juga memperkirakan bahwa hujan belum bisa turun secara merata pada periode tersebut. Artinya, langit yang sesekali tampak mendung belum tentu menjadi pertanda bahwa hujan akan segera turun dan mengakhiri penantian panjang masyarakat.
Yang tak kalah mengkhawatirkan, musim hujan 2026/2027 diprediksi datang lebih lambat dari biasanya, yakni sekitar akhir November hingga Desember di sejumlah wilayah DIY. Prediksi ini tentu tidak berarti Jogja sama sekali tidak akan diguyur hujan sebelum periode tersebut. Namun, ketika jumlah hari tanpa hujan terus bertambah dan awal musim hujan diperkirakan mundur, perubahan yang saya amati di sekitar Maguwoharjo menjadi pengingat bahwa kekeringan bukan persoalan yang bisa dianggap sepele.
Kota Istimewa Bukan Berarti Bebas Bencana
Dampak kekeringan tidak berhenti pada tanah yang menguning atau tubuh yang makin sering berkeringat. Berdasarkan laporan BPBD DIY, lebih dari enam juta liter air bersih telah didistribusikan ke wilayah terdampak kekeringan selama periode 4 Juli–31 Agustus 2026. Bantuan tersebut menjangkau empat kabupaten, yakni Bantul, Sleman, Kulon Progo, dan Gunungkidul.
Data ini menunjukkan bahwa kekeringan bukan semata-mata persoalan perubahan warna lanskap. Bagi sebagian masyarakat, kondisi tersebut berkaitan langsung dengan pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari. Ketika sebagian dari kita hanya mengeluhkan panasnya perjalanan menuju kampus, ada warga yang harus menghadapi persoalan jauh lebih mendesak: memastikan ketersediaan air bersih untuk minum, memasak, mandi, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Lantas, apakah Jogja benar-benar lebih aman dari bencana dibandingkan daerah lain? Saya rasa, kita perlu berhenti menganggap suatu daerah bebas bencana hanya karena wilayah tersebut tidak sedang ramai diberitakan. Setiap daerah memiliki ancaman dan kerentanannya masing-masing. Di Jogja, kekeringan mungkin tidak selalu terlihat sedramatis gempa atau banjir yang merusak bangunan. Namun, dampaknya tetap nyata bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat.
Pada akhirnya, menjadi mahasiswa di Kota Istimewa bukan hanya tentang menikmati angkringan, berburu tempat nongkrong, atau mengeluhkan panasnya perjalanan menuju kampus. Kita juga perlu belajar membaca keadaan sekitar. Lapangan yang menguning, tanah yang merekah, dan hujan yang tak kunjung datang bukan sekadar pemandangan musiman yang bisa dilewati begitu saja.
Barangkali, yang perlu kita ubah bukan hanya cara memandang cuaca, melainkan juga cara memahami lingkungan tempat kita tinggal. Sebab, merasa aman bukan berarti benar-benar bebas dari ancaman. Dan menyandang sebutan Kota Istimewa bukan berarti Jogja kebal terhadap bencana.
Jadi, sebelum buru-buru menyebut Jogja sebagai daerah yang aman dari bencana, ada baiknya kita membuka mata lebih lebar. Sebab, bencana tidak selalu datang dengan suara gemuruh. Kadang, ia hadir diam-diam, sementara kita masih sibuk mengipas-ngipas badan di lampu merah.
Penulis: M. Khoirun Nazmi
Editor: Ridha Mardhatillah