YOGYAKARTA – Pengurus Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga menggelar Rencana Tindak Lanjut (RTL) bagi mahasiswa angkatan 26, Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini melanjutkan Kaderisasi Tingkat Perguruan Tinggi (KTPT) dan mengangkat tema kepenulisan.
Acara berlangsung di Peradaban Creative House, Jalan Mawar Tengah Nomor 72, Baciro, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, mulai sekitar pukul 15.30 WIB hingga 17.30 WIB.
Materi disampaikan oleh Nabil Rifqi Nidhomi, awardee CSSMoRA UIN Suka dari Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial angkatan 23. Muh. Ahsan, awardee Program Studi Teknologi Pendidikan angkatan 25, memandu acara sebagai moderator.
Tulisan Harus Lugas dan Jelas
Setelah pembukaan dan ice breaking yang mencairkan suasana, Nabil mulai memaparkan materi sekitar pukul 16.10 WIB. Ia menekankan bahwa tulisan harus lugas dan jelas. Menurutnya, tulisan sering bermasalah karena kesalahan penulisan, kalimat yang terlalu gemuk, dan penjelasan yang bertele-tele.
Tiga Kerangka Dasar Tulisan
Nabil lalu memperkenalkan kerangka dasar tulisan. Apa pun jenisnya, mulai dari artikel ilmiah sampai opini, tulisan terdiri atas tiga bagian: pendahuluan, pembahasan atau isi, dan penutup. Ia memilih contoh tulisan yang sederhana karena menurutnya lebih cocok bagi peserta yang baru beralih dari bangku SMA ke dunia kampus. Cara itu juga yang ia pakai saat belajar menulis dulu.
Tulisan Lahir dari Pertanyaan
Pendahuluan, atau latar belakang, memaparkan fenomena atau masalah yang menjadi alasan sebuah tulisan perlu dibuat. Namun, kata Nabil, jauh sebelum menyusun pendahuluan, penulis harus lebih dulu punya pertanyaan. Tulisan, ujarnya, lahir dari pertanyaan di kepala saat kita melihat sesuatu yang janggal, dan tujuan tulisan adalah menjawab pertanyaan itu.
Untuk menjelaskannya, Pemuda dari Purwokerto itu mengajak peserta menengok contoh dari pengalamannya sendiri. Sebagai penderita asam lambung, ia tertarik pada kopi. Sambil melempar pertanyaan ke ruangan tentang siapa yang punya keluhan serupa, ia mengangkat stigma bahwa kopi buruk bagi penderita asam lambung dan harus dikurangi karena mengandung kafein. Dari situ ia bertanya, apakah benar kopi tidak boleh sama sekali dinikmati?
Contoh kedua datang dari isu yang lebih besar, yakni kebakaran hutan dan lahan. Peristiwa ini berulang tiap tahun, tetapi sebarannya tahun ini sangat luas. Padahal Malaysia, yang berada di satu pulau dengan Kalimantan, nyaris tidak mengalami hal serupa. Jika dilihat di peta, wilayah yang paling banyak terdampak ada di Kalimantan bagian Indonesia. Nabil mengajak peserta menggali pertanyaan yang muncul, yaitu apa yang membuat Indonesia terus mengalaminya setiap tahun, sementara tetangga sebelah tidak. Menurutnya, mencari pertanyaan dari sebuah masalah adalah poin terpenting sebelum menulis.
Membangun Pembahasan dengan Argumen
Pada bagian pembahasan, Nabil kembali ke contoh kopi. Ia menguraikan cara tulisan itu menjawab pertanyaannya. Awalnya tulisan membahas gambaran umum tentang kopi dan asam lambung. Berikutnya, ia menyanggah anggapan itu dengan rujukan penelitian yang menyebut kopi punya manfaat bagi lambung. Setelah itu, ia menelaah faktor pemicu asam lambung yang paling dominan. Menurut riset yang ia rujuk, pemicunya bukan makanan atau faktor eksternal, melainkan pikiran. Karena itu, kopi yang pada dasarnya menenangkan pikiran justru bisa menjadi jalan keluar, bukan penyebab masalah.
Ia mengingatkan, isi tulisan yang baik tidak mengalir lurus dari A sampai D. Harus ada tarik-menarik argumen, yaitu dugaan, sanggahan, lalu pembuktian.
Pola Menyusun Paragraf
Untuk menyusun paragraf, Nabil membagikan pola sederhana. Paragraf diawali pernyataan umum atau ide utama, dilanjutkan bukti yang mendukung berupa riset atau fakta, lalu ditutup pernyataan pendukung lain. Ia mencontohkan pola itu dengan satu paragraf yang berargumen bahwa sebuah langkah diplomasi presiden menyalahi koridor, lengkap dengan alasan yang menopangnya. Setelah isi, tulisan ditutup dengan kesimpulan dari seluruh pembahasan.
Di akhir pemaparan, Nabil merangkum urutan berpikir sebelum menulis. Mulai dari melihat suatu objek atau rangsangan, lalu muncul ide, lalu pertanyaan seperti “kenapa ini terjadi” dan “apa dampaknya”. Dari pertanyaan itulah tulisan dibangun mengikuti kerangka yang telah dijelaskan.
Praktik Menulis dan Penutup
Usai pemaparan, peserta langsung berlatih. Sekitar pukul 17.02 WIB, ruangan yang tadinya riuh dengan tanya jawab berubah hening, hanya terdengar ketikan dan coretan. Pukul 17.30 WIB, Nabil mengulas beberapa tulisan peserta dan memberi masukan tentang bagian yang masih bertele-tele maupun kalimat yang perlu dipadatkan.
Acara ditutup dengan sesi refleksi bersama. Peserta diajak mengingat kembali apa yang mereka pelajari sore itu, mulai dari pentingnya menulis dengan lugas, mencari pertanyaan sebelum menulis, hingga menyusun tulisan dengan kerangka yang jelas. Setelah dua jam yang diisi materi, diskusi, dan praktik menulis, suasana ruangan terasa lebih hangat.
Melalui kegiatan ini, PSDM CSSMoRA UIN Suka berharap ilmu kepenulisan dari RTL tidak berhenti di ruangan, tetapi berlanjut dalam karya tulis angkatan 26 ke depan.