Green House (Student Center), UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Sabtu, 5 Oktober 2024 – sebanyak 4 alumni beserta seluruh pengurus Kabinet Mahasta telah mengadakan acara meet and greet atau yang biasa disebut dengan acara sarasehan.
Acara berlangsung dengan lancar serta beberapa alumni menyampaikan kesan pesannya.
“Pertama saya ucapkan terima kasih kepada panitia yang sudah menyelenggarakan acara ini. Berjalan sangat baik ya. Dan saya sangat mengapresiasi teman-teman yang sudah mengundang alumni, khususnya saya angkatan 18 bisa bergabung kembali, nostalgia dengan CSS. Mungkin bisa ditingkatkan lagi hubungan relasi dengan alumni, ya salah satunya dengan kegiatan ini, atau kalau pengen lebih dekat lagi bisa dengan kegiatan yang semiformal ya, seperti ngopi atau kegiatan lainnya.” Ujar Yarsa selaku alumni dalam sambutannya
“Saya sebagai alumni berharap CSS ini lebih baik ke depannya. Tetap semangat dalam menjalankan kepengurusan CSS ya. Kita memberikan yang terbaik buat CSS. Bagaimanapun juga CSS itu wadah kita untuk berkarya. Sebisa mungkin tetap kita utamakan/prioritaskan untuk CSS ini. Yang kedua, sebisa mungkin bersikap inovatif. Tetap menjadikan angakatan sebelumnya sebagai panutan kita. Kita ambil yang baiknya, program kerja yang baik kita tingkatkan lagi, mungkin kalau belum sempurna kita evaluasi lagi supaya lebih baik. Harus berani mengambil tindakan/pembaharuan. Kalau emang ingin berkembang kan harus berani ambil resiko. Jangan lari dari resiko itu, kita bisa inovatif, tetap semua program kerja kita arahkan untuk css sesuai dengan visi dan misi CSS kita.” lanjutnya,
Kemudian kesan pesan dilanjutkan oleh Syahid selaku alumni juga.
“Ya, menurut saya ini kegiatan yang cukup bagus, seharusnya tetap dipertahankan, karena ini juga salah satu jembatan yang menghubungkan antara temen-temen yang masih aktif di CSSMoRA sama alumni. Karena dari dulu memang sering dilakukan acara-acara seperti ini. Salah satunya pertama kita harus tau kita punya alumni,dan kalo but hapa-apa ada informasi apa-apa alumni biar tau arahnya mau kemana. Jadi, ini salah satu acara yang bagus ya. Jangan sampai dihilangin lah acara-acara kayak gini. Mungkin kesannya ya menarik. Apalagi ya kalau misalkan acara-acara kayak gini alumni dipanggil kalian kan nanti bisa melihat perspektif di masing-masing alumni, dan kira-kira mana si yang cocok dengan angkatan saya, karena kan setiap angkatan punya problematiknya masing-masing. Terus kan bisa menyesuaikan kira-kira kita arah kiblatnya kemana si?”. Ujarnya dalam kesan pesan ini.
“Kita selaku penerima beasiswa santri berprestasi, kita seharusnya punya kayak rasa tanggung jawab ke orang yang kasih beasiwa, salah satunya dengan meluangkan waktu untuk berorganisasi. Karena salah satu bentuk menghargai kita dikasih beasiswa ya mengoptimalkan apa aja yang dikasih PBSB, salah satunya kita dikasih wadah berorganisasi ya kita manfaatin secara niat. Ya mungkin sarannya itu tadi. Makannya dari awal tadi dibahas kan, temen-temen tu kayak dimasukkin ke proker itu kan niat dari masing-masing kalian kan, jadi nanti jangan sampai terpaksa gitu loh. Untuk menghilangkan itu kan makannya suruh milih masing-masing, bukan ditunjuk. Mungkin kalau sarannya ya itu tadi, kita harus mulai sadar diri bahwa kita tu punya tanggung jawab, punya kewajiban yang harus dibayar juga selaku santri PBSB gitu. lanjutnya,
Kemudian kesan pesan dilanjutkan oleh Andi Fatihulfaiz selaku alumni ketua CSSMoRA tahun 2018.
“Alhamdulillah kegiatan-kegiatan seperti ini sangat seru ya temen-temen, sangat bermanfaat juga buat temen-temen. Di samping sebagai ajang silaturahmi antara alumni, demisioner dan pengurus baru, tentu kegiatan ini bisa mempererat silaturrahmi. Sangat berkesan bisa berkenalan dengan teman-teman pengurus baru bagi kami yang alumni ini yang sudah beberapa tahun lulus ini, bisa berkenalan lagi dengan adik-adik muda CSSMoRA. Menurut saya, kegiatan-kegiatan seperti ini tetap penting untuk dilakukan kembali. Tapi, untuk frekuensinya itu menurut saya itu 6 bulan sampai satu tahun sekali. Karena kita tau bahwa alumni-alumni itu punya kesibukan sendiri-sendiri tidak seperti mahasiswa. Harapannya, kenapa frekuensinya 6 bulan sampai setahu, harapannya itu, programnya bisa digodok lebih mateng. Saya selalu membayangkan bahwa ada reuni-reuni akbar seperti sekolah sama lain. Jadi, CSSMoRA tetap memberikan reuni akbar dan sebagainya. Nah, itu yang dirancang 6 bulan atau satu tahun sebeleumnya. Jadi, bukan proker yang dirancang sebulan dua bulan, itu enggak menurut saya. Nah, itu gunanya alumni disitu. Nanti, outputnya bisa melakukan pendataan alumni dan lain sebagainya, barangkali data dari alumni itu dibutuhkan oleh pengurus baru. Jadi, pengurus ini mengumpulkan, nanti bisa digunakan oleh pengurus selanjutnya. Itu harapannya.” Ujarnya.
“Untuk pengurus baru semoga semangat yang ada di awal ini tetap menyala atau tetap terjaga hingga akhir kepengurusan tahun depan. Semoga satu tahun ini, para pengurus ini bisa tetap bersemangat, bersinergi membuat proker-proker yang inovatif dan kreatif bagi CSSMoRA. Dan, semoga nantinya melalui perkenalan alumni dan pengurus ini, silaturahmi tetap berjalan bagi kedua belah pihak. Saya harap, melalui kegiatan ini bisa mewadahi nantinya berbagai program kerja pengurus baru ini, barangkali di beberapa bagian atau proker peran alumni ini bisa membantu pengurus., entah itu bisa menjadi pemateri, membantu secara networking, membantu dana, mungkin kan beberapa alumni sudah mungkin. Harapannya seperti itu, bagaimana alumni bisa membantu para adik-adiknya, dan para adik-adiknya ini bisa mengetahui kakak-kakaknya.” lanjutnya,
Kemudian topik pembahasan dilanjutkan dengan “Bagaimana konstribusi alumni dalam mengembangkan CSSMoRA?”.
“Sejauh ini biasanya sebatas menjadi narasumber. Karena memang kita belum punya ikatan alumni ya, jadi memang alumni itu belum terorganisir. Dulu sempat ada usulan membuat ikatan alumni, tetapi tidak berjalan. Memang kendalanya itu sulit. Salah satu tantangan kita sebagai alumni itu susah untuk berkontribusi langsung ketika kita nggak ada di jogja. Ya, usaha kita ya memaksimalkan alumni-alumni yang ada di jogja. Atau alumni yang di luar negeri bis akita undang, bisa lewat media zoom secara daring berkaitan dengan kegiatan yang kita ambil. Nggak mesti kegiatan formal ya, kegiatan informal juga. Ya, usahakan duku chatt alumni ketika ada kepentingan.” Ungkap para alumni.
Kemudian topik selanjutnya yaitu, “Apa dampak terbesar organisasi bagi diri?”.
“Saya pribadi, sangat membantu. Terima kasih kepada CSS yang sudah menyediakan wadah bagi saya untuk mengembangkan. Dampak yang paling utama itu menejemen waktu atau menejemen diri. Dengan css saya belajar banyak, khususnya tentang tanggung jawab sebagai mahasiswa, mahasantri pbsb dan sebagai anggota.” Ungkap Yarsa selaku alumni.
“Mungkin kalau hal lain, buat hal positifnya, sesuai dengan departemen yang kita ambil juga banyak, misalnya di jurnalistik, mas Faiz misalnya, katanya kebantu banget kayak menulis artikel, tesis atau skripsi itu sangat membantu. Kalau saya dulu di PSDE, ya Alhamdulillah dengan saya jadi anggota PSDE, ya saat ini alhamdulillah saya sudah bisa merintis usaha kecil-kecilan. Jadi, ya ngga ada yang sia-sia asalkan kita benar-benar mau bekerja di CSS.” lanjutnya,
Kemudian dilanjutkan oleh Syahid.
“Setelah lulus PBSB, mungkin kita baru ngrasain kayak banyak dampak yang kita dapatkan, salah satunya misalkan, apalagi temen-temen yang ingin lanjut studi, lanjut S2 misalkan, kita kan pengen ikut beasiswa kayak LPDP BIB yang kerjasama sama kemenag, sebenarnya kita sebagai alumni PBSB, kita tu punya poin tersendiri, karena salah satu juknisnya itu, misalkan kita itu ikut beasiwa BIB, yang kerjasama sama kemenag itu salah satu poinnya itu santri PBSB. Itu salah satunya.” Ungkapnya.
“Selain itu, ya itu tadi balik lagi, kalian itu aktif di beberapa proker tu emang bener-bener niat atau engga. Karena dengan niat apa enggaknya itu bakal menetukan apa yang bakal kalian dapet kedepannya gitu. Misalkan kayak, kalian ikut organisasi ini, terus kalian itu niat, nanti pas udah selesai nah itu akan mudah untuk menjalankan hal-hal yang berbau kayak gini. Misalkan aku sama mas Faiz dulu lebih aktifnya ke jurnalistik. Ketika S2, kita diwajibkan buat jurnal, misalkan, nah, karena kita udah terlatih di S1 nya buat menulis karya ilmiah, pas S2 kita udah ngerasa dampaknya. Dampaknya tu bukan pada waktu itu. Waktu itu kita masih ditempa, nah, dampaknya pasti jangka panjang. Nah jadi pas kita S2 kita diminta nulis jurnal atau segala macam, kita bukan melihat itu sebagai hal baru, karena kita udah diajarkan. Nah, makannya kita setiap proker, apalagi yang berbau ilmiah, kita mengundang orang yang emang ahli di bidang itu. Karena yaitu tadi, kita memanfaatkan hal itu.” lanjutnya,
Kemudian topik pembahasan dilanjutkan dengan “Bagaimana mem-branding CSSMoRA agar banyak dikenal?”.
“Dulu, kita kalau buat kegiatan selalu kerjasama, atau HMPS itu suka kolab. Dengan kolaborasi-kolaborasi seperti itu jadi bisa dikenal. Karena anak CSSMoRA juga merangkap sebagai anak HMPS. Menurut saya, cara ini bisa dicoba buat temen-temen 23 yang masih semester 3, jaman-jamannya aktif HMPS ya. Terus apa lagi yang bisa dilakukan branding? Ya, itu sosial media. Dulu CSSMoRA punya event skala nasional, regional, kampus. Ungkap Andi FAtihul Faiz.
Biasanya proses brandingnya kayak gini doang, kampus kegiatannya apa gitu, zaman saya, kan tinggalnya di tempat prof. mustaqim. Biasanya setiap ulang tahunnya, beliau launching buku, nah cssmora nebeng tuh, di PSDE, biar kami jualin, ntar keuntungannya bagi. Nah, terus ngambil kegiatannya di kampus. Minimal, orang liat apa itu CSSMoRA. Kalo regional, paling ya temreg. Biasanya, regional ini kita juga ngadain baksos ke daerah-daerah tertentu. Branding itu emang sulit coy. Ngga bisa satu minggu dua minggu. Emang harus berlanjut. Menurut saya, salah satu yang membuat redup CSSMoRA ya itu gap di 2020.” lanjutnya,
Mas Faiz bercerita sebab adanya gap di tahun itu menyebabkan tidak teraturnya birokrasi CSSMoRA. Terlebih pada 2021, hanya 9 orang yang masuk pada CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga. Menurutnya, itu merupakan tugas yang sangat berat.
“Menurut saya, gapapa organisasi kalian ngga dikenal, yang penting bisa menumbuhkan bakat minat kalian atau bisa jadi wadah. Karena sebetulnya organisasi kan bagaimana kalian sebagai pembelajar bisa belajar mengorganisasikan sesuatu. Daripada setengah mati membranding CSSMoRA tapi kalian ngga ada peningkatan skill.” Ungkapnya.
“Menurut saya, branding itu penting tapi bukan menjadi hal yang mutlak. Yang mutlak itu bagaimana organisasi kalian bisa menumbuhkan kalian. Buat apa ikut organisasi besar kalo engga tumbuh, anjay.” lanjutnya lagi,
Kemudian dilanjutkan Syahid.
“Sebenarnya kan gimana cara kita manfaatin yang ada di CSSMoRA. Pas waktu kami dulu itu kan dikasih pilihan ya, jadi kita menjalaninya dengan sepenuh hati. Sebenernya kating-kating itu ngga ada yang sengaja mem-branding PBSB atau CSSMoRA, cuman dengan mereka tekun dan setiap ada kegiatan mereka ikut, jadi PBSB itu bukan hal yang asing gitu ya. Kayak misalkan ada kegiatan IAT atau HMPS itu pasti PBSB atau CSSMoRA itu ngambil alih ntah itu kayak hadrohnya atau mungkin kegiatan penulisan, nah itu anak CSSMoRA tu terkenal. Secara otomatis sebenernya kalau kita fokus di minat yang kita ambil, dan bener-bener bisa kita bawa keluar, adalah salah satu branding untuk CSSMoRA. Ikut-ikut aja, asal ada kegiatan ikut aja. Itu merupakan salah satu branding kita juga si.” Ungkapnya.
Mas Syahid bercerita kalau memang dikenal menjadi anak PBSB itu beban, tetapi beban itu harus kita balas. Mas Faiz juga berpesan sebelum musyker, “BPH harus nentuin kemana kalian mau bawa organisasi ini.”
Beliau berdua menceritakan pada zamannya, CSSMoRA banyak memanggil pemateri karena disesuaikan dengan arah organisasinya, yaitu menjadikannya sebagai wadah pengembangan. Tetapi ada juga proker yang memang sasarannya itu punya objek.
“Cara menentukan pengembangan ya proker itu berbanding lurus. jadi musyker itu temen-temen, ngga asal ah mau buat konvoi ah. Engga dong.tentuin dulu BPH nya mau kemana baru tu kita susun buat apa yang bisa mengarah ke arah itu, gitu.” lanjutnya,
Kemudian topik pembahasan dilanjutkan dengan “Di samping kompleksnya proker, bagaimana cara menyelaraskan, supaya antara pengurus, anggota aktif yang menjadi sasaran sama-sama enak menjalankannya?”.
Nah, Andi FAtihul Faiz menjawab harus perbanyak interaksi. Beliau menceritakan bahwa dulu ada yang namanya keluarga pohon, dimana berisi satu kakak pohon sebagai penanggung jawab ditemani oleh beberapa temannya untuk mengayomi adik-adik pohonnya. Seperti sekedar makan bersama, saling membantu tugas kuliah dan lain sebagainya. Nah, untuk permasalahan anggota aktif yang menjadi sasaran, beliau berasumsi bahwa sebab mereka tidak antusias adalah karena ketidaktahuan mereka mengenai manfaatnya. Kita dulu zaman kalian juga bertanya ngapain si ber-CSSMoRA? Paling cara menginisiasinya itu ya paling memberi tahu ini lo manfaatnya.” Ungkapnya.
Menurut Andi FAtihul Faiz inti permasalahannya adalah tidak semua orang mem-prioritaskan CSSMoRA. “Karena kalo kalian menganggap CSSMoRA itu penting pasti akan terbentuk sendiri. Nah, dari situ muncul ketertarikan mengenai keluarga pohon. Itu ide bagus yang dapat diterapkan untuk membangun keakraban.” lanjutnya,
Kemudian pembahasan dilanjutkan dengan analisa Ali Musthofa (Kadep PSDM 2024/2025) mengenai telatnya ktpt berpengaruh pada antusiasme anggota aktif terhadap cssmora. Andi Fatihulfaiz dan Syahid menyetujui analisis tersebut, dan menawarkan salah satu solusi dengan bercermin pada angkatannya dulu yang mempunyai problem sebab perbedaan pondok menjadikan kurangnya keakraban. Solusinya, dengan mengadakan event kecil-kecilan, pantianya dari mereka sendiri, di rolling, dan dalam kegiatan itu sedikit ada games. Dan, nyatanya itu benar menumbuhkan keakraban. “Setiap angkatan pasti punya problemnya.” Ungkapnya. Selain itu, beliau juga menjelaskan event mesra. Sebagaimana KTPT, mesra mirip dengan KTPT tetapi tidak resmi dari nasional, melainkan inisiatif dari perguruan tinggi. “Setelah matrikulasi, sospem, PBAK, kita ada mesra. Kemudian ada KTPT, kemudian mesra lagi, karena ini (mesra) punya PT, setau saya.” lanjutnya, Kemudian yang terakhir, pada sesi closing statement. “Tetap jadikan angkatan-angkatan sebelum kalian sebagai panutan. Yang baik diambil, yang jelek ya ditinggalkan.”
Yarsa menegaskan untuk memperbaiki program kerja yang sebelumnya kurang baik dan meningkatkan proker yang sebelumnya sudah dinilai baik.“Tidak usah terlalu fokus pada kami, yang tau waqi’ (keadaan) nya itu kalian. Ya yang baik diambi.” lanjutnya,
Kemudian Hamada Hafidzu menambahi, “Poin pertama: Perlu untuk membuka ruang-ruang refleksi pasca kegiatan agar ternyata apa yang kalian lakukan selama ini ngga Cuma capek doang. Ada ruang bertumbuh di dalamnya. Poin kedua: Memaknai asas kekeluargaan lebih mendalam.” Hafi menyampaikan bahwa asas kekeluargaan yang dimaksud dalam CSSMoRA adalah bukan sebagai paksaan untuk mengikuti kegiatannya, tetapi menjadikannya sebagai rumah, tempat kembali. “Bawa asas kekeluargaan itu sebagai ruang nyaman. CSS itu rumah kalian. Kekeluargaannya itu bukan sekedar yang penting ikut kegiatan, tapi soal bagaimana kalian sebagai ketua dihargai. Kalau CSS itu keluarga, berarti milik kalian semua.” Ungkapnya. “Yang ketiga: soal proker. Coba bayangkan dulu hasil dari program kerja kalian. Program itu cara, yang harus kalian imajinasikan adalah hasil.” Lanjutnya.
