Langit hari ini cerah sekali, secerah hatiku karena hari ini adalah hari
keberangkatan ke pondok pesantren. Mondok adalah salah satu Impian terbesarku dari
dulu sejak lulus SD tetapi orang tuaku belum mengizinkan dengan alasan aku masih
kecil jadi ibu belum tega melepasku. Sekarang aku sudah lulus MTS dan akan
melajutkan ke SMA sekaligus mondok di Pondok impianku.
Untuk memondokanku orang tuku harus menjual sapi untuk biaya pendaftaran, serta
membeli keperluanku. Aku berjanji kepada diriku sendiri aku akan serius dan semangat
belajar di pondok maupun sekolah, demi kedua orang tuaku yang sudah susah payah
membiayai mondokku.
Orang tuaku melepaskanku dengan kerelaan hati, aku pun demikian, aku hanya
menangis sebentar setelah orang tuaku pergi aku langsung bergabung dengan teman-
teman baru dan berkenalan dengan mereka. Setelah itu aku langsung menata lemari
dan mandi. Rasanya langsung betah aku di pondok baru ini. Bahagia sekali rasanya
impianku untuk mondok dari dulu akhirnya tercapai juga.
Oh iya, aku belum perkenalan yaa… Namaku Haura Laila Az-Zahra, biasanya
dipanggil Ara. Ku kira aku ini ekstrovert banyak omong dan mudah bergaul tetapi
kenyataannya di pondok aku susah akrab dengan teman-teman yang lain karena aku
terlalu sibuk dengan duniaku sendiri dengan kegiatanku sendiri, tidak ada waktu untuk
main-main maupun mengobrol sekedar mengakrabkan diri. Bukannya aku berlebihan
bilang tidak ada waktu karena kenyataanya memang begitu. Pondokku sekarang ini
adalah Pondok Tahfidzul Qur’an, ini kali pertamaku mondok berbeda dengan teman-
temanku yang smp nya sudah mondok dan sudah pernah menghafal Al-Qur’an.
Sedangkan aku? Aku belum pernah menghafal Al-Qur’an aku harus berjuang untuk
menghafal ayat demi ayat tidak seperti teman-teman yang lain sudah punya celengan
hafalan tinggal mengulang. Awalnya aku minder dengan mereka. Apakah aku bisa? Tapi
aku yakin aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menggapai cita-citaku demi
orang tuaku. Walaupun aku harus kehilangan masa mudaku untuk bersenang-senang
dan bermain-main tetapi tak apa. Aku pasti bisa.
Setiap hari kerjannku dari pagi sampai waktunya ngaji hanya menghafal Qur’an
saja bahkan aku sampai lupa makan, lupa mandi hanya waktu shalat yang tak lupa
karena aku selalu memilih masjid untuk tempat menghafal kalau bosan aku akan
pindah ke sawah sambil mencari udara segar. Untuk sekolah karna masih Covid jadi
belum masuk pembelajaran masih dengan system penugasan karena di Pondok tidak
boleh bawa hp. Baguslah waktu menghafalku jadi lebih banyak. Program Tahfidz di
Pondok Pesantrenku ini berbeda sekali dengan Pesantren lain. Bisa dibilang kejam,
makanya aku tertekan sekali rasanya. Bayangkan setiap hari di target 1 setengah
halaman harus jadi lancar setiap hari harus menembah hafalan ditambah hafalan yang
kemarin harus dibawa, setiap naik juz ada ujian simaan. Kalau tidak lulus bisa terkena
surat peringatan kalua sampai 3 kali bisa di keluarkan dari program. Kejam sihh kejam
sekali menurutku. Tapi inilah tantangannya. Di sini juga ditarget khatam 2 tahun.
Sebenarnya aku tertekan sekali tapi aku tak kan pernah menyerah. Cepek rasanya
dikejar-kejar target, belum lagi ustadz yang galak. Sering kali aku dimarahin ustadzku
karena tidak lancar setoran sampai-sampai melihat beliau saja rasanya sudah takut
duluan. Benar-benar masa SMA yang penuh tekanan. Siapa yang bilang masa SMA
adalah masa terindah? Menurutku tidak. Tidak ada indahnya sama sekali, jatuh cinta
saja aku tidak sempat.
Kalian tidak akan tau bagaimana kejamnya Program ini kalau kalian tidak
merasakannya sendiri. Aku bisa bertahan sampai lulus saja rasanya sudah bersyukur
sekali, merupakan keberuntungan. Karena banyak yang mampu saja mereka memilih
pindah tidak betah dengan program ini. Sebenarnya program ini bagus sekali hanya saja
harus kuat mental dan mau berjuang.
Tahun pertama dan kedua bagiku cukup berat, aku benar-benar berjuang mati-
matian untuk bisa bertahan, kalau bukan demi orang tuaku tidak akan kuat rasanya.
Hingga pada tahun ketiga saat teman-temanku banyak yang sudah khatam dan
mengikuti Haflah Bil Ghaib aku belum bisa. Sedih rasanya tapi tak apa masih ada tahun
ke empat nanti. Jujur aku kecewa, kurangkah perjuanganku? Padahal teman-teman
yang lain lebih bersantai tak sesusah payah aku tetapi mereka bisa ikut haflah. Aku
merasa dunia tak adil. Aku menangis ingin seperti mereka.
Tapi aku yakin tidak ada perjuangan yang sia-sia. Masa SMA yang ku habiskan untuk
berjuang menghafalkan Al-Qur’an dengan penuh tekanan dan tuntutan program yang ku
kira menyiksa ini ternyata adalah masa paling bermakna dan terindah dalam hidupku.
Aku beruntung sekali menghabiskan masa itu dengan sibuk menghafal kalam Ilahi. Dan
di tahun ke empat aku berhasil mengikuti Haflah Khatmil Qur’an. Walaupun lebih
lambat dari teman-temanku aku tetap bangga pada diriku senidri sudah mencapai titik
ini. Saat aku sudah lulus masa-masa itulah yang ku rindukan. Sekarang tidak ada lagi
tekanan dan tuntutan program, tidak ada lagi yang memarahi ketika hafaln tidak lancar.
Dan aku merindukan itu semua. Masa yang ku kira tidak ada indah-indahnya adalah
masa terindah dalam hidupku.
Oleh: Novi Lailatus Risqi
