Langit bersinar terang dengan cahayanya Ku kenakan sarung untuk melangkah padaNya Sejak merekahnya fajar hingga datang senja Terlantun doa dan sholawat untuk baginda
Mereka berkata bahwa aku santri Tertunduk pada atap yang mengikat hati Tuturan dan aturan Manjadi rantai dalam ingatan
Kami bukanlah oknum berdasi Bukan pula pemegang ekonomi negri Kami hanya seorang pejalan ilahi Dengan menyandang kitab di setiap hari
bukan hanya menjadi tempat singgah Namun juga rumah bagi jiwa yang resah Di sini akhlak ditempa, iman disulam Menjadi bekal di dunia hingga kealam
Pesantren, lentera dalam gulita Menyinari jalan bagi pencari cahaya Dari tanahmu tumbuh generasi mulia Penjaga agama, pembawa risalah-Nya
Berperang melawan dimensi mimpi Menjadi penerus bangsa ini Lalu , Perihal rindu yang tak tentu datangnya Tanpa aba aba menggerogoti ruang hampa dalam jiwa
Terlintas kenangan indah yang begitu melekat ingatannya Tak hentinya bertanya kepada waktu yang seakan telah membeku Di bumi Bagian timur ini, tempat merajut beribu asa dan cita. Oh, sampai kapan rindu ini menjadi derita ?