Kepesantrenan merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam tertua di
Indonesia. Pesantren memiliki peran penting dalam pendidikan Islam dan budaya
masyarakat dengan pembentukan karakter masyarakat. Sejak awal, Pesantren menjadi
sentral pendidikan untuk pengajaran nilai-nilai keagamaan untuk membentuk
kepribadian yang sesuai dengan prinsip ajaran Islam.
Pondok Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia telah ada
sejak abad ke-14. Lembaga satu ini jika dilihat dari konteks sosial historis banyak
memberikan sumbangsih dengan turut andil dalam membentuk serta membangun
bangsa Indonesia. Meskipun kultur di pondok pesantren masih bersifat tradisional,
ketika melihat dari realitanya, banyak lulusan dari pondok pesantren atau yang disebut
santri yang menjadi cendekiawan yang mengalahkan sarjana yang bukan kalangan
dari pondok pesantren. Perkara ini menunjukkan bahwa kaum santri atau yang bisa
dikenal kaum sarungan bisa memiliki kontribusi besar terhadap pengembangan
pendidikan dan intelektualitas di Indonesia, seperti K.H. Abdurrahman Wahid atau
yang lebih dikenal Gus Dur, layaknya kita ketahui beliau menjadi Presiden ke-4 di
Indonesia, beliau memiliki pengaruh dalam sejarah politik Indonesia.
Kepemimpinannya membawa nuansa baru dalam politik dan keagamaan.
Kepesantrenan yang telah ada selama 7 abad, tentunya mengalami dinamika
yang signifikan seiring perkembangan zaman. Namun, di era modernisasi saat ini,
pesantren mengalami tantangan-tantangan, seperti halnya adalah pesantren dituntut
untuk beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan identitas diri dan nilai-
nilai tradisional yang telah menjadi ciri khas melekat. Dinamika antara tradisi
tradisional dengan modernitas membuat polemik yang kompleks, di mana pesantren
dituntut untuk bisa menemukan keseimbangan antara mempertahankan warisan
budaya leluhur dan mampu untuk mengadopsi inovasi yang relevan. Dalam hal ini,
Kyai sebagai murrabbi ruhi memiliki peran utama dalam menjaga dan
mentransmisikan nilai-nilai tradisional kepada santri.
Proses pembelajaran di pesantren salaf biasanya berfokus pada kitab kuning,
yang mencakup berbagai disiplin ilmu Islam seperti fiqh, tafsir, dan tasawuf. Proses
pembelajaran yang dilakukan secara klasikal, di mana kyai memberikan pengajaran
secara langsung kepada santri. Selain itu, Kyai mengajarkan nilai-nilai moral dan etika
yang menjadi prinsip perilaku yang harus diaplikasikan di kehidupan sehari-hari. Hal
ini mengindikasikan bahwa pesantren menjadi tempat pelestarian budaya lokal, yang
menjadi jati diri santri.
Dewasa ini, pesantren dihadapkan era modernisasi dengan tantangan seperti
digitalisasi yang membawa perubahan yang signifikan terhadap gaya belajar mengajar.
Dalam menghadapi era ini, banyak pula pesantren yang mulai mengadopsi kurikulum
modern, seperti matematika, fisika, biologi, dan lain-lain. Usaha ini untuk
mempersiapkan kaum santri menghadapi dunia yang semakin bersaing dalam hal
teknologi
Modernisasi pesantren dengan tujuan meningkatkan kualitas pendidikan,
seperti pemanfaatan teknologi dengan menggunakan media sosial. kadang kala tidak
bisa diterima oleh semua kalangan, karena merasa khawatir akan hilang jati diri dari
pesantren dan nilai-nilai tradisional. Dalam menghadapi tantangan ini, pesantren
berusaha untuk mengintegrasikan antara tradisi dan modernitas dengan memberikan
ruang untuk keduanya saling berdialog. Perkara ini sesuai dengan kaidah
“المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح” yang artinya melestarikan nilai-nilai lama
yang baik dan menerapkan nilai-nilai baru yang lebih baik.
Sehingga pesantren kini santri tidak hanya mendapatkan pengetahuan agama, tetapi
juga keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan zaman.
Oleh: Ana Nihayatus Sholihah
