Oleh : Ridha Mardhatillah
Di bahwa kaki gunung marapi yang sejuk
Ada insan kecil menahan tanggis yang tak kunjung usai
Dinding-dinding itu menjadi saksi bahwa dia ingin berdamai akan takdir
Selalu saja ada bait do’a yang tak kunjung usai ia lontarkan
insan kecil berbaju kurung lusuh
memulai Langkahnya menuju Gedung itu
mengaji huruf, merangaki makna
mengejar Cahaya ditengah gelap gulita
Suara azan subuh menggema
sujud Panjang mengiringi dalam hening malam
ada tangis rindu dan secercah harapan kecil dalam do’a
harapan pada sang pencipta alam
Murabbi bijak bercerita mesra
hikayat zaman,Pelajaran jiwa
ilmu disuguhkan dengan cinta yang tulus
menjadi lentra dalam kalbu yang halus
Pesantren bukan sekedar tempat
kusebut rumah bagi jiwa-jiwa yang haus akan ilmu akhirat
pada shaf yang lurus dan hati yang Ikhlas
tumbuhlah insan kecil dengan iman yang kukuh
Lalu dia meninggalkan pesantren itu
meniti jalan di dunia yang bising
namun di dadanya, pesantren abadi
menjadi Cahaya di setiap bumi persinggahan.
