Sungai itu tampak tenang pagi ini. Alirannya terdengar lengang membelah dataran hampa, yang kiranya pada tiga bulan silam, masih berdiri tegak deretan rumah di tepiannya. Semuanya hampir tak tersisa, sekalipun riangnya suara anak-anak yang terdengar berlarian menuju perbukitan kebun sawit. Naas, kini dataran itu telah menjelma tumpukan tanah, gelondongan kayu-kayu raksasa, pun disertai sisa-sisa pohon sawit yang bertahan di sekelilingnya.
Di sinilah dahulu Desa Garoga berdiri, sebuah Desa kecil di Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Kini, warga menyebutnya dengan kalimat yang sama setiap kali orang luar bertanya tentangnya: “Itu adalah desa kami dahulu.” Lebih tepatnya, sebelum hujan besar menerjang tanpa salam pada November 2025 silam.
Tanggal 25 sampai 28 November 2025 merupakan awal datangnya peristiwa yang merubah segalanya. Hujan turun tanpa jeda, memayungi Garoga dalam tiga hari lamanya. Di hari ketiga, pukul tiga dini hari, air mulai meruak setinggi pinggang orang dewasa.
Warga yang terbiasa dengan banjir di musim penghujan, awalnya mengira fenomena ini adalah luapan sederhana. Hingga pukul tiga sore hari, arus besar datang merubah segalanya. Ia hadir membawa gelondongan kayu besar dari perbukitan, kemudian, menghantam rumah-rumah, merobohkan dinding, serta menyeret apa saja yang dilaluinya—termasuk anak-anak tak berdosa.
Konon, gelondongan kayu yang menghantam desa disebut berasal dari kawasan perbukitan dekat area perusahaan. Sebuah area yang dulunya dikenal sebagai perkebunan karet. Namun dalam beberapa tahun terakhir, bentang alam itu berubah menjadi kebun-kebun sawit. Warga menyebut terdapat alih fungsi lahan di sana, meski hingga kini tak pernah jelas siapa yang paling bertanggung jawab atas perubahan tersebut.


Bagi Nirmala, Luka itu tak Hanya Nampak pada Kehilangan Tempat Tinggal, tetapi juga Pada Hilangnya Bagian Jiwa.
Di antara warga yang selamat, ada Nirmala Sari (29 tahun), yang kehilangan anak bungsunya yang turut terseret oleh gelondongan kayu bersama banjir. Tubuh kecilnya ditemukan tiga hari setelah banjir mulai surut.
Bagi Nirmala, jelas bahwa hal itu meninggalkan luka batin yang tak lekas berkesudah, sekalipun peristiwa itu telah berlalu pada tiga bulan sebelumnya. Tak jarang, Nirmala hanyut dalam ketakutan dan penyesalan, serta yang paling dominan adalah menyalahkan diri sendiri saat kesendirian. Seakan, kehilangan anak bungsunya adalah kecerobohan karena tak mampu menjaga anaknya dengan baik.
“Kalau saja waktu itu cepat mengungsi…”, kalimatnya menggantung, ucapnya lirih pada tim Jurnalistik CSSMoRA UIN Suka.
Tanggal 9 Februari 2026 adalah hari terakhir kami berbincang dengan Nirmala. Hari itu, ia mulai tampak ceria. Anak-anaknya yang lain kini menjadi penguat hidupnya, begitupun dorongan suaminya, sekaligus para volunteer yang datang ke lokasi bencana.
Namun sayang, ada beberapa ketakutan yang justru tumbuh lebih besar. Setiap hujan turun, ia menjadi sangat ketat. Melarang anak-anaknya keluar, terkadang berteriak mencari suaminya yang beraktivitas di luaran sana, agar tetap memastikan mereka selalu dalam jangkauan pandang. Sebab, rasa takut kehilangan selalu kembali menghantui, apalagi ia dulu berencana hanya memiliki tiga anak. Kini, satu telah lebih dulu pergi.


Trauma tak ikut surut bersama air.
Warga-warga Garoga yang selamat, selama ini dievakuasi ke Hunian Darurat (Hundar) yang terletak di Desa Batuhula, tiga kilometer dari Garoga. Di dalamnya, kehidupan berjalan dalam ritme yang berbeda. Selama dua bulan terakhir, warga masih sangat bergantung pada bantuan. Dari peralatan mandi hingga makanan sehari-hari.
Pelan-pelan, ekonomi kecil mencoba bangkit. Ada yang kembali ke kebun, ada yang mulai menjual kacang. Suami Nirmala sesekali mengambil kayu untuk dijual. Aktivitas sederhana itu menjadi cara untuk merasa tetap hidup.
Namun sayangnya, membangun kembali kondisi rumah di sini terlihat lebih mudah dibanding membangun kembali rasa aman. Setiap kabar buruk tentang cuaca, setiap angin kencang yang datang tiba-tiba, membuat sebagian warga merasa waswas, takut sekaligus gemetar. Sungai yang dulu akrab kini dipandang dengan curiga. Desa Garoga mungkin pelan-pelan sudah dibersihkan dari sisa-sisa banjir, tetapi luka sosialnya masih menetap pada warganya.
Desa itu mungkin telah hilang secara fisik. Namun yang tertinggal lebih dalam dari sekadar tanah kosong. Ia tinggal dalam ingatan seorang ibu yang memeluk anaknya lebih erat setiap kali hujan turun. Dalam gemetar yang datang tanpa aba-aba. Dalam pertanyaan tentang alam yang berubah dan manusia yang mungkin luput menjaganya.
Reporter: Robiahtul Adwiyah Hasibuan, Hanania Rahima Putrina K.
Editor: Nabil Rifqi Nidhomi
