Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri. 1
Di tepi sore yang tipis, sisa cahaya adalah tangis. Di hadapan pusara
sang kakek, gadis itu kembali. Sendiri. Hening menyeruak ketika lututnya
bertepuk dengan tanah. Ia mengeja pelan nisan berhias bunga tabur. Baju
lusuhnya bau matahari. Dari netra kecilnya, terpancarkan kehampaan yang
begitu dalam. Tiada aksara yang bicara. Lewat deraian air mata, ia mulai
bercerita.
Pada suatu hari silam, nabastala mulai redup dimakan malam. Aku
duduk di sudut ruangan, memeluk sepi, memenjara raga di telaga sunyi.
Menikmati secangkir vanila latte yang mampu menyulam menit menjadi jam
dengan tenang. Hingga seorang lelaki datang merobohkan kedamaian yang
sudah kubangun perlahan.
“Ayolah, apa susahnya kau menyetujui tawaran sebagus ini? Ini sangat
menguntungkan bagimu,” bujuk Arga ke sekian kalinya.
“Tawaran busuk! Buat apa memanfaatkan rakyat kecil demi kepentingan
pribadi?”
“Kepentingan pribadi? Lihat, kita adalah penguasa yang akan
memajukan tanah air tercinta. Santri-santri bodoh itu hanyalah lalat
pengganggu. Di zaman modern ini masih menyerukan agama ditengah-tengah
bangsa? Menuntut keadilan? kesetaraan? Cih.”
“Bodoh! Kau yang tak paham betapa busuknya tawaran ini jika kita
menyetujuinya, bangsa ini akan hancur dihancurkan oleh keegoisan-keegoisan
yang semakin merajalela,” sanggahku naik pitam.
“Hahaha, peduli setan aku dengan keseimbangan. Lihat, kita akan
berkuasa. Golongan kita akan sejahtera. Tak usah kau pedulikan mereka. Kubu
kita adalah raja,” ujarnya dengan mata mengilat.
“Bagaimana bangsa ini akan maju jika semua orang saling berseteru?
Aku setuju dengan santri-santri itu yang menyerukan perdamaian. Kita
seharusnya bersatu. Menyingkirkan perbedaan,” ujarku marah.
“Justru bocah ingusan itulah yang harus kita singkirkan, Nirmala!”
bentaknya sambil berdiri, membuat perhatian orang-orang di sekitar tertuju
pada kami.
“Turunkan egomu breng—“
1 Puisi Sapardi Djoko Damono, ‘pada suatu hari nanti’
Plakk.
Lagi-lagi tamparan itu mendarat di pipiku dengan pilu. Menyayat hatiku
begitu dalam. Tubuhku lunglai tak berdaya. Tatapanku menerawang jauh ke
awang-awang. Dalam hening yang bising, sekelebat kidung wahyu kolosebo
kembali terngiang di kepala. Membawaku jauh pada perenungan yang dalam.
“Kek, kota ini tak lagi seperti dulu. Kota yang selalu kau banggakan di
setiap akhir dongengmu, kini terlihat seperti hantu. Manusia-manusia bejat
berkeliaran, menyerukan dusta yang mereka anggap benar. Berlomba-lomba
mengagungkan suatu golongan, seolah mereka adalah tuhan. Kek, kidung-
kidung yang kau bacakan di setiap tidurku tak lagi berarti di masa kini.
Semuanya lenyap ditelan ambisi.”
Bertemankan bunga kamboja yang berguguran, Nirmala menangis
meluapkan segala penat di hadapan pusara sang kakek. Ia merindukan sajak-
sajak puisi penenang hati. Juga kisah-kisah wayang pedoman diri. Ia tak
setabah Ekalaya. Pun tak sehebat Yudhistira. Baginya, ia hanya serpihan kaca
yang akan melukai orang-orang di sekitarnya.
Ketika swastamita tak lagi menyatu dengan nabastala, Nirmala
memutuskan untuk beranjak pergi dari pusara sang kakek. Berjalan lesu dari
jalan setapak menuju ke persinggahan antah berantah. Melewati gang dan
rumah-rumah yang di depannya saling bertebaran spanduk-spanduk
pencoblosan. Entah apa yang mereka serukan, calon bupati, gubernur,
presiden, atau calon perusak negara? Entahlah. Ia sudah muak dengan
kepalsuan-kepalsuan yang selalu digemakan.
Sesampainya di kamar yang tak begitu luas, Nirmala membersihkan diri
dengan air hangat, menata buku yang berserakan, lantas merebahkan
badannya di atas kasur. Sebelum matanya benar-benar terpejam, Nirmala
teringat akan sesuatu.
“Astaga, hampir aja lupa, besok kan aku harus ngisi materi kebangsaan
di organisasi CSSMoRA. Ah udahlah, pakai materi lama aja, palingan juga
kayak organisasi pada umumnya, cuma formalitas ngadain acara seminar-
seminar moderat beragama, FOMO,” ucap Nirmala bermonolog.
Detik menyulam menjadi menit, menit merajut menjadi jam, hingga
baskara terbit di ufuk timur. Cahayanya menerobos ke sela-sela tirai jendela,
memaksa Nirmala untuk bangkit dari kasurnya. Terdengar suara jarum arloji
terus berputar, meninggalkan kaum-kaum malas yang masih terlelap dalam
narasi mimpi. Meski harus melawan rasa kantuk yang teramat berat, Nirmala
bergegas bangkit, karena menjaga bangsa ini adalah amanah tersulit yang
diberikan oleh kakeknya.
“Selamat pagi, Kak Nirmala,” sapa salah seorang mahasantri bernama
Robiah ketika Nirmala sampai pada lokasi seminar, “mari, Kak. Tempat seminar
ada di sebelah sana.”
Nirmala mengawali seminar dengan keraguan. Bukan ragu dengan apa
yang disampaikannya, melainkan ragu apakah manusia-manusia ini memiliki
prinsip yang sama dengan dirinya atau tak jauh beda dengan orang-orang bejat
yang tak pantas disebut manusia.
“Kesimpulannya, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan dan
akomodatif terhadap budaya merupakan empat pilar moderasi beragama yang
harus kita lestarikan keberadaannya,” ucap Nirmala menutup materi pagi hari
itu.
“Kak, izin bertanya. Mengapa moderasi itu penting bagi kita?”
“Moderasi tentu sangat penting bagi kita. Mengapa? Raimon Panikkar
mengatakan ‘Bisa jadi apa yang saya pegang benar, bisa jadi pula apa yang
kamu pegang benar’ maksudnya, tidak ada pandangan yang salah, hanya saja
keangkuhan itulah yang membuat seseorang tidak mau menerima argumen
orang lain,” jawab Nirmala dengan lembut, “begini, dek. Antara kaki, tangan,
kepala dan anggota tubuh yang lain itu pasti memiliki bentuk-bentuk yang
berbeda, tetapi agar dapat menjalani aktivitas dengan baik mereka harus
memiliki visi yang sama. Nah, begitu juga manusia. Bagaimana bangsa ini mau
maju kalau setiap masyarakatnya hanya mendewakan golongannya sendiri,
menganggap pandangan orang lain salah, menjelek-jelekkan, saling
meremehkan? Bayangkan betapa hancurnya negeri ini.”
“Sedikit menambahkan, Kak. Dalam Islam terdapat maqolah yang
berbunyi المحافظة على القديم الصالح والأخذ بالجديد الأصلح yang dimana kita sebagai santri
harus bisa menjaga tradisi luhur yang sudah diajarkan tetapi tidak menutup
ajaran baru yang dapat memajukan ilmu pengetahuan. Jadi selama itu baik
bagi kita, terima saja. Tapi kalau buruk juga jangan dicela,” tutup Robiah yang
mampu mengembalikan senyuman Nirmala yang hilang akhir-akhir ini.
“Kek, benar katamu, kau tak akan membiarkanku berkelana sendiri. Di
sini, aku menemukan bait-bait puisimu yang hilang. Di CSSMoRA ini, aku
menemukan bait-bait itu.”
Oleh : Azalia Nanda B
Yogyakarta, 22 Desember 2024
