Oleh : Fitria Dewi
Mahasiswi Universitas Pendidikan Indonesia, Pemenang Lomba Essai Sersantara 2026
Pendahuluan
Perkembangan teknologi digital telah mengubah secara signifikan cara individu mengakses, memahami, dan menyebarkan pengetahuan keagamaan. Media sosial yang awalnya berfungsi sebagai sarana komunikasi kini berevolusi menjadi ruang edukasi dan dakwah yang interaktif serta menjangkau audiens luas secara cepat (Laily et al., 2022; Zaid et al., 2022). Transformasi ini menjadikan media sosial sebagai bagian integral dari ekosistem pembelajaran Islam kontemporer, di mana penyampaian nilai keagamaan hadir dalam berbagai format digital seperti video, infografis, dan diskusi daring (Hulliyah et al., 2021). Dengan demikian, media sosial tidak hanya berfungsi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai learning environment yang membentuk pola pikir dan praktik keberagamaan generasi digital (Makhrian et al., 2025; Syafaq et al., 2026).
Namun, kemudahan akses tersebut juga diiringi risiko misinformasi, rendahnya kredibilitas sumber, serta bias interpretasi ajaran agama (Harizan & Mydin, 2024). Algoritma platform yang memprioritaskan popularitas konten semakin mempercepat penyebaran informasi yang tidak terverifikasi. Dalam kondisi ini, generasi muda sebagai pengguna utama media sosial menjadi kelompok paling rentan sekaligus berpengaruh dalam membentuk wacana keagamaan digital (Febriani & Ritonga, 2022; Jafar et al., 2025). Oleh karena itu, literasi digital yang kritis, etis, dan berbasis nilai menjadi kebutuhan yang mendesak (Mahzumi et al., 2025).
Untuk memahami dinamika dakwah digital secara komprehensif, esai ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Network Analysis (SLNA), yang menggabungkan systematic literature review dan analisis jaringan bibliometrik untuk mengidentifikasi tren dan struktur penelitian (Zheng et al., 2025). Lampiran Gambar 1. Dengan mengikuti kerangka PRISMA untuk menjamin validitas data (Xiong et al., 2025), 351 artikel dari Scopus (2021-2026) diseleksi menjadi 50 artikel. Lampiran Gambar 2. Analisis menggunakan VOSviewer dan Microsoft Excel menunjukkan bahwa 10 artikel dengan sitasi tertinggi menegaskan meningkatnya kajian media sosial dalam pendidikan Islam. Lampiran Tabel 1. Serta peran konten digital, platform seperti Instagram dan TikTok, serta influencer islami dalam membentuk identitas keagamaan generasi muda (Bujangga et al., n.d.; Ibda et al., 2023). Meski demikian, sebagian besar penelitian masih bersifat deskriptif dan belum menekankan pengembangan strategis komunitas dakwah digital yang berkelanjutan.
Santri memiliki posisi strategis sebagai agent of change, tidak hanya menjadi konsumen tetapi juga produsen konten dakwah yang edukatif, moderat, dan inklusif. Peran ini didukung oleh pondok pesantren sebagai fasilitas pembelajaran, yang meskipun membatasi penggunaan ponsel, tetap menyediakan ruang bimbingan bagi santri untuk mengakses, memproduksi, dan menyebarkan konten dakwah secara terstruktur. Model komunitas dakwah digital berbasis media sosial, seperti yang dicontohkan oleh influencer Islami “kita.mukmin”, menunjukkan efektivitas dalam memperluas jangkauan audiens dan menyebarkan konten edukatif. Lampiran Gambar 3. Dengan demikian, santri dapat mengadopsi strategi serupa untuk menjalankan dakwah digital yang berkelanjutan, mencegah misinformasi, membangun literasi digital sehat, kritis, serta bertanggung jawab.
Isi
Di era media sosial, informasi keagamaan dapat tersebar dengan sangat cepat, namun tidak selalu diiringi dengan akurasi. Banyak konten dakwah beredar di masyarakat. Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang lebih tanpa verifikasi yang memadai, sehingga berpotensi menimbulkan bias pemahaman mengutamakan popularitas dibandingkan kebenaran, sehingga konten sensasional sering kali lebih dominan daripada konten edukatif. Di sisi lain, dakwah digital memiliki potensi besar dalam menjangkau audiens luas. Komunitas One Day One Juz (ODOJ) mampu membangun jejaring lebih dari 140.000 pengguna (Nisa, 2018), sementara akun seperti @myquranbest menunjukkan bahwa konten visual yang menarik dapat meningkatkan keterlibatan audiens (Makhrian et al., 2025). Namun, praktik dakwah digital saat ini masih cenderung bersifat individual dan belum terstruktur secara optimal. Temuan bibliometrik scopus menunjukkan bahwa kajian mengenai media sosial dan pendidikan Islam terus meningkat hingga tahun 2025, dengan kecenderungan menuju pendekatan kolaboratif. Lampiran Gambar 4. Meskipun demikian, analisis jaringan kolaborasi masih menunjukkan fragmentasi, yang menandakan bahwa kerja sama kolektif belum berkembang secara maksimal. Untuk memahami permasalahan ini secara lebih sistematis, digunakan pendekatan issue tree untuk membantu memetakan masalah utama, akar penyebab dan dampak dengan jelas, sehingga memudahkan penemuan solusi selanjutnya.
Melihat kompleksitas permasalahan dakwah digital, diperlukan pendekatan yang kolektif, terstruktur, dan berbasis komunitas. Dalam konteks ini, dikembangkan inovasi Santri LINK (Learning and Information Network for Knowledge-sharing) sebagai model penguatan dakwah digital berbasis santri yang berkolaborasi secara lintas pondok pesantren.
Santri LINK merupakan ekosistem dakwah digital yang menghubungkan santri sebagai pengelola konten dakwah dalam jaringan kolaboratif, dengan dukungan fasilitas resmi dari pondok pesantren. Model ini menekankan bahwa kekuatan dakwah di era digital tidak hanya pada isi pesan, tetapi juga pada pengelolaan, konsistensi produksi, dan strategi distribusi konten. Dalam praktiknya, satu akun dakwah dikelola oleh tim santri dengan peran yang terdefinisi, seperti penulis konten, editor, desainer grafis, dan pengelola media sosial.
Mengingat tradisi di banyak pondok, santri tidak diperkenankan memegang perangkat pribadi seperti HP, sehingga pondok berperan menyediakan fasilitas teknis (misal akun resmi, perangkat, atau jaringan internet) yang difasilitasi secara terstruktur dan diawasi, agar konten dakwah tetap dikelola oleh santri tetapi berada dalam kerangka aman dan terorganisir. Sistem distribusi konten dilakukan secara terstruktur, dengan unggahan terjadwal dan strategi algoritmik agar pesan dakwah yang edukatif tetap memiliki jangkauan luas.
Kerangka ini memungkinkan santri tetap menjadi aktor utama dalam produksi konten, sementara pondok menjadi fasilitator dan penghubung antar-santri dan antar-pondok, sehingga jaringan komunitas bisa lebih luas dan kolaboratif.
Untuk menjalankan inovasi ini secara sistematis, digunakan metode SAHABAT (Sasaran, Hambatan, Bantuan, Aksi, Tujuan) sebagai kerangka operasional:
• SAsaran: Santri sebagai produsen konten dakwah berbasis keilmuan, serta masyarakat digital sebagai audiens utama.
• HAmbatan: Tingginya persaingan konten, dominasi algoritma popularitas, rendahnya literasi digital kritis, serta lemahnya kolaborasi antar-santri.
• Bantuan: Pembentukan komunitas dakwah digital berbasis kolaborasi, difasilitasi oleh pondok pesantren dengan aturan penggunaan perangkat dan akun yang jelas serta terstruktur. • Aksi: Produksi konten dakwah multi-format (video pendek, infografis, narasi edukatif) pengelolaan akun kolektif di bawah pengawasan pondok, kampanye literasi digital keagamaan serta kolaborasi lintas komunitas dan pondok.
• Tujuan: Meningkatkan literasi digital keagamaan yang kritis dan bertanggung jawab, serta memperluas penyebaran dakwah Islam yang moderat, inklusif, dan terpercaya.
Implementasi Santri LINK diharapkan menghasilkan transformasi signifikan dalam ekosistem dakwah digital dari aktivitas individual menjadi gerakan kolektif, terstruktur, dan berkelanjutan. Santri tetap menjadi pengelola utama konten, sementara pondok menjadi fasilitator resmi yang memastikan penggunaan teknologi sesuai ketentuan dan terstruktur, sekaligus menjembatani kolaborasi antar-santri dan antar-pondok.
Dengan kehadiran konten dakwah yang kredibel dan terverifikasi, inovasi ini dapat mengurangi misinformasi, meningkatkan literasi digital masyarakat, dan menciptakan ruang digital yang lebih sehat, inklusif, dan edukatif. Santri LINK bukan sekadar strategi dakwah digital, tetapi juga intervensi sosial untuk membangun ekosistem informasi keagamaan yang terpercaya di era digital. Penutup Transformasi digital telah mengubah pola produksi, distribusi, dan konsumsi pengetahuan keagamaan, sehingga media sosial menjadi ruang strategis sekaligus problematis dalam dakwah kontemporer. Tantangan seperti misinformasi, bias interpretasi, dan rendahnya literasi digital menuntut pendekatan yang sistematis dan berkelanjutan. Analisis SLNA menunjukkan bahwa meskipun kajian terus berkembang, masih terdapat kesenjangan dalam pengembangan model dakwah digital yang kolaboratif.
Dalam konteks ini, santri dan pondok pesantren berpotensi menjadi aktor kunci dalam membangun ekosistem dakwah digital yang kredibel.
Melalui inovasi Santri LINK dan kolaborasi yang terorganisasi, penyebaran dakwah dapat dilakukan secara lebih luas dan maksimal. Dengan pengelolaan berbasis nilai, model ini turut mendorong dakwah Islam yang moderat serta literasi digital yang kritis dan bertanggung jawab.
Daftar Pustaka
Bujangga, H., Nasution, A. K. P., Salam, M. W., Muhammad, T., & Harisnur, F. (n.d.). Social Media in Islamic Education; A Systematic Review of Current Trends, Benefits, and https://doi.org/10.14391/ajhs.29.409 Challenges. 29, 409–423. Febriani, S. R., & Ritonga, A. W. (2022).
The Perception of Millennial Generation on Religious Moderation through Social Media in the Digital Era. Millah: Journal of Religious https://doi.org/10.20885/millah.vol21.iss2.art1 Studies, 313–334. Harizan, S. H. Md., & Mydin, S. A. H. (2024).
Tabayyun Measures for SelfRegulating Social Media Behaviour Among Muslim Consumers. In J. Fraedrich, M. Pirtskalava, T. Khoshtaria, H. Terzi, M. Bayirli, & B. Al Serhan (Eds.), Contemporary Business Research in the Islamic World (pp. 385–402). Springer Nature Singapore. https://doi.org/10.1007/978-981-975400-7_21 Ibda, H., Sofanudin, A., Syafi’, Moh., Soedjiwo, N. A. F., Azizah, A. S., & Arif, M. (2023). Digital learning using Maktabah Syumilah NU 1.0 software and computer application for Islamic moderation in pesantren. International Journal of Electrical and Computer Engineering (IJECE), 13(3), 3530. https://doi.org/10.11591/ijece.v13i3.pp3530-3539 Jafar, N., Lampe, M., Muhammad, M. J., Muhammad, D., Guntur, A. I., & Hasyim, A. (2025). Gender and Religiosity in Indonesian Popular Media: An Anthropological Reading of Cultural Representations. Jurnal Lektur Keagamaan, 23(2), 667–695. https://doi.org/10.31291/jlka.v23i2.1489 Laily, I. M., Astutik, A. P., & Haryanto, B. (2022). Instagram sebagai Media Pembelajaran Digital Agama Islam di Era 4.0. Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, https://doi.org/10.31538/munaddhomah.v3i2.250 3(2), 160–174. Mahzumi, F., Aminuddin, A., Mahfudh, H., & Mujibuddin Sm, M. (2025). CYBER-ISLAMIC MODERATION IN INDONESIA: Digital Activism of Islami.co and IBTimes.id and Its Implications for Young Muslims. MIQOT: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman, https://doi.org/10.30821/miqot.v49i1.1290 49(1), 22. Makhrian, A., Mat, N. H., & Noh, C. H. C. (2025). Instagram based da’wah and worship engagement among followers of @myquranbest. Multidisciplinary Science Journal, 8(6), https://doi.org/10.31893/multiscience.2026347 2026347. Nisa, E. F. (2018). Social media and the birth of an Islamic social movement: ODOJ (One Day One Juz) in contemporary Indonesia. Indonesia and the Malay World, 46(134), 24–43. https://doi.org/10.1080/13639811.2017.1416758 Syafaq, H., Musyafa’ah, N. L., Al Banna, A. H., & Rosyidah, U. (2026). ‘ Santri without pesantren ’ and the sectarian violence on Indonesian Muslim social media. Cogent Arts & Humanities, https://doi.org/10.1080/23311983.2025.2612046 13(1), 2612046. Xiong, R. R., Liu, C. Z., & Choo, K.-K. R. (2025). Synthesizing Knowledge through A Data Analytics-Based Systematic Literature Review Protocol. Information Systems Frontiers, https://doi.org/10.1007/s10796-023-10432-3 27(1), 235–258. Zaid, B., Fedtke, J., Shin, D. D., El Kadoussi, A., & Ibahrine, M. (2022). Digital Islam and Muslim Millennials: How Social Media Influencers Reimagine Religious Authority and Islamic Practices. Religions, 13(4), 335.
https://doi.org/10.3390/rel13040335 Zheng, Y., Bai, Z., Jia, S., Sun, M., Gao, D., Nie, W., Li, K., Bian, Y., Wang, W., Xie, X., Liu, F., Zhao, X., & Shao, X. (2025). All-weather 10 Gbps daynight FSO communication in Hohxil at an altitude of 4856 m for the intelligent transport system. Applied Optics, 64(20), 5754–5763. https://doi.org/10.1364/AO.565911
