Gelap merayap pelan di atas tanah yang masih basah oleh ingatan kehilangan. Di tanah Sumatra yang belum sepenuhnya pulih dari bencana dan trauma, bulan Ramadhan justru datang dengan hiasan lampu dan tenda-tenda pengungsian.Beberapa orang duduk menatap malam sambil menghitung kebutuhan harian yang tak kunjung usai. Mereka yakin bulan suci akan datang membawa keberkahan dan langit dipercaya lebih ramah pada doa-doa yang tulus.
Bagi warga yang masih tinggal di hunian darurat Desa Garoga, Kecamatan Batang Toru, keyakinan itu berjalan berdampingan dengan ketidakpastian yang terus menghantui.
Pak Teguh (50 Tahun), pendamping warga sekaligus koordinator Muhammadiyah, mengatakan bahwa secara fisik penyintas sudah siap menyambut Bulan Suci Ramadhan. “Jika tidak pindah ke hunian semi tetap mereka siap, karena logistik dan kebutuhan lain sudah tersedia di hunian darurat,” ujarnya.
Rencana pemindahan ke hunian semi tetap belum sepenuhnya disambut sebagai kabar baik. Perpindahan yang seharusnya dinanti oleh para penyintas ini ternyata dapat memicu burnout akibat adanya segmentasi yang sudah terbentuk dari awal. Sejak bantuan mulai disalurkan pada Desember 2025 melalui relawan Muhammadiyah, distribusi logistik lebih dahulu menjangkau warga Muhammadiyah. Kondisi itu menimbulkan rasa cemburu di kalangan warga non-Muhammadiyah dan sebagian warga desa sekitar.

Jarak sosial perlahan terbentuk, membuat hubungan antarkelompok menjadi lebih sensitif. Di hunian darurat saat ini, ketegangan sudah beberapa kali muncul antara penyintas Muhammadiyah dengan non-Muhammadiyah.
“Saat senam pagi menggunakan musik, sempat ditegur oleh warga desa karena dianggap berisik, kegiatan terpaksa dihentikan” tutur Pak Teguh saat ditanyai persoalan di lokasi.
Peristiwa-peristiwa kecil seperti itu membuat sebagian penyintas merasa belum siap hidup berdampingan dalam satu kawasan besar tanpa penyesuaian yang matang. Mereka khawatir perpindahan ke hunian semi tetap justru akan membuat psikologis mereka kian tertekan.
Persoalan lain juga masih meninggalkan tanda tanya di hati mereka. Para penyintas seharusnya memiliki hak atas bantuan-bantuan dari pemerintah daerah, namun hingga kini bantuan yang dimaksud belum mereka terima. Selama ini kebutuhan harian hanya ditopang dari gudang logistik, sementara pemerintah dirasa masih berfokus pada penanganan lumpur dan gelondongan kayu.
Menurut Pak Teguh, bantuan dana untuk rumah yang rusak parah bisa mencapai Rp60 juta tetapi dijanjikan menyusul pada tahap akhir.
“Bantuan untuk sekolah darurat memang ada, seperti buku dan perlengkapan belajar, tapi sedikit. Yang paling banyak justru dari yayasan,” sambung beliau ketika diwawancarai oleh tim Jurnalistik CSSMoRA (02/26).
Lantas masih bisakah masyarakat Desa Garoga merasakan Ramadhan sebagai bulan penuh berkah apabila mereka masih merasa resah? Sedang nun jauh di sana, pemerintah justru sibuk memikirkan programnya yang dirasa belum mendesak dan masih lengah terhadap kebutuhan ekonomi, psikososial dan hak-hak lain yang seharusnya didapatkan oleh para penyintas banjir.
Reporter : Hanania Rahima Putrina K, Robiahtul Adwiyah Hasibuan, Azalia Nanda
Editor : M. Khoirun Nazmi
