“Tak ada yang sebagus dan sejelek kelihatannya” Morgan Housel
Keberuntungan dan risiko adalah saudara kandung yang mustahil untuk dipisahkan, di mana ada keberuntungan di sana ada risiko-selalu seperti itu. Dua faktor penting dan utama ini sering kita lupakan dalam proses perjuangan kita, baik di kampus maupun bekerja. Letak kesuksesan seseorang seringkali dikaitkan dengan usaha dan kerja keras yang dilakukan-sudah menjadi doktrin di semua kalangan masyarakat. Mari kita beri contoh kasus. Bill Gates dan Paul Allen merupakan pendiri Microsoft yang saat ini sudah menjadi Perusahaan billioner. Apakah kesuksesan mereka saat ini dikarenakan usaha dan kerja keras yang mereka lakukan? Atau mereka hanya beruntung saja?
Pasti kebanyakan kita menjawab bahwa itu murni dari usaha dan kerja keras mereka ketika masih muda dan mendapatkan kesempatan pendidikan yang tinggi. Namun pernahkah kita berpikir pada saat itu di mana mereka bersekolah? Sekolah mereka namanya Lakeside school, yang di mana merupakan satu-satunya sekolah saat itu yang memiliki akses terhadap komputer ketika rata-rata sekolah pascasarjana di Amerika belum mengenal computer-bahkan sangat beruntung jika mereka bisa mengakses komputer.
Mari kita berhitung sejenak supaya kita bisa melihat bagaima realitas saat itu, pada tahun 1968 ada sekitar 303 juta orang yang umurnya sudah masuk usia sekolah menengah atas di Amerika, tutur PBB. Sekitar 18 juta orang di antara mereka hidup di Amerika, dan ada 270.00 hidup di bagian Washington, 100 ribu berada di daerah Seattle, dan hanya 300-an orang yang bersekolah di Lakeside School, bayangkan dari 303 juta orang hanya 300 orang yang memiliki kesempatan sekolah di Lakeside. Artinya, ada 1 banding 1 juta siswa SMA bersekolah yang memiliki aksesibilitas terhadap komputer, dan Bill Gates merupakan salah satunya.
Kita tidak bisa memungkiri betapa cerdas dan visionernya seorang Bill Gates, dia juga seorang pekerja keras dan memiliki pengetahuan komputer lebih dari ahlinya saat itu. Namun kita perlu mengetahui bahwa Bill Gates sendiri memiki keuntungan satu dibanding sejuta orang karena bersekolah di Lakeside. Bahkan dia tidak malu menyatakan “Jika tak ada Lakeside, maka tidak bakal ada yang namanya Microsoft” tuturnya ketika menyampaikan pidato sambutan kepada alumni pada tahun 2005.
Selanjutnya, kita akan bahas sahabat dekatnya Bill Gates yang kebetulan satu sekolah dengan Bill Gates, namanya Kent Evans. Menurut Bill Gates, Evans merupakan murid tercerdas di kelasnya saat itu, namun mereka memiliki nasib yang berbeda, karena Evans mengalami saudara kandungnya keberuntungan yang didapatkan Gates, yaitu risiko.
Selain Bill Gates dan Paul Allen yang memiliki ketertarikan dengan komputer, sahabat mereka Kent Evans juga ikut dalam geng anak-anak penyuka komputer tersebut. Gates dan Evans sering berdiskusi terkait komputer, baik di sekolah bahkan di luar jam sekolah, mereka menghabiskan banyak waktu untuk berbincang-bincang masalah komputer lewat Telepon. Mereka juga sering berbincang apa yang akan dilakukan 5-6 tahun kedepan-sangat visioner jika mendengarkan mereka berbincang. Gates berharap mereka dapat berkuliah bareng-bareng dan mengeksekusi ide mereka untuk menjadi bagian developer komputer-mungkin jika ditafsirkan menjadi Microsoft saat ini. Evans bisa saja menjadi salah satu founder Microsoft bersama Bill Gates dan Paul Allen. Namun, sangat disayangkan itu tidak terjadi, Evans meninggal dalam kecelakaan ketika mendaki gunung sebelum sempat lulus SMA.
Menurut The Rockulus, ada sekitar 36 kematian orang yang mendaki gunung setiap tahun di Amerika. Kent Evans mengalami risiko satu banding sejuta dan tidak dapat menyelesaikan apa yang sudah dirancang bersama Bill Gates.
Bill Gates mengalami keberuntungan satu dibanding sejuta dengan sekolah di Lakeside. Kent Evans mengalami risiko satu banding sejuta tanpa pernah merealisasikan yang sudah dirancang bersama. Kecerdasan yang sama, kekuatan yang sama, peluang yang sama, namun nasib yang berlawanan.
Keberuntungan dan risiko tak ayal layaknya 2 belah mata pisau, tidak diketahui mata pisau yang mana yang menghampiri lebih dulu. Keberuntungan dan risiko merupakan realitas bahwa setiap output atau hasil dalam kehidupan dipengaruhi oleh keuatan-kekuatan di luar upaya individual. Keduanya sangat mirip sehingga tidak bisa dilihat dengan kasap mata, tidak bisa percaya pada salah satunya tanpa menghormati yang lain. Sangat sukar diukur dan sulit untuk diterima, sehingga sering diabaikan.
Bagi setiap satu orang Bill Gates, ada satu Kent Evans yang sama-sama makan dan minum, pintar, kerja keras, tapi pada akhirnya mendaptakan hasil yang berlawanan.
Pada intinya keberuntungan dan risiko adalah dua sisi koin yang sama, yang sangat amat sukar untuk ditebak. Maka ketika melihat proses seseorang juga kita harus memiliki “frame” tersebut, yaitu jangan terlalu memuji seseorang karena kehebatannya dan hati-hati terhadap orang yang diremehkan. Maka, kurangilah melihat seseorang karena “body” atau individunya, cobalah melihat dari sisi pola umum kehidupannya, bagaimana pola kehidupan orang sukses dan pola menjadi jatuh dalam kegagalan
Pantaslah seorang Bill Gates pernah berkata, “ keberhasilan adalah guru yang payah, membuat orang berpikir bahwa dia tidak dapat kalah.” Namun kegagalan juga dapat menjadi guru yang payah, membuat orang berpikir bahwa Keputusan yang dibuat buruk, padahal mungkin hanya terkenan sial saja. Namun, yang lebih penting dari keseluruhannya adalah sebagaimana kita percaya terhadap keberuntungan dalam keberhasilan, maka peran risiko memberikan pelajaran bahwa kita harus memberikan ruang pengertian dan memaafkan diri sendiri ketika menilai sebuah kegagalan.
And the last but not least. “Dampak tindakan yang kebetulan (kejadian) di luar kendala kita kadang lebih besar daripada tindakan yang disengaja (direncanakan).
