Manusia merupakan makhluk yang serat dengan kebutuhan untuk mencukupi kehidupannya, terutama pada kebutuhan dasar. Perlu diketahui bersama kebutuhan manusia tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik ataupun materi saja, seperti makan, minum, tempat tinggal (papan), sandang, seksual, tapi juga ada kebutuhan yang berdimensi pada aspek sosial-budaya seperti pergaulan dengan sesama manusia, pendidikan, pekerjaan, dan aspek spiritual seperti bertanggung jawab kepada Tuhan.
Seorang pakar psikologis modern, Abraham Maslow memiliki konsep yang dia tawarkan untuk merumuskan kebutuhan dasar manusia. Dalam rumusannya, kebutuhan dasar manusia itu bersifat hierarkis, tersusun dalam 5 strata yang bersifat relatif, yaitu: kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan keselamatan, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan terhadap rasa cinta dan memiliki (harga diri), dan yang paling ujung adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Konsep hierarki kebutuhan dasar tersebut biasa kita kenal dengan sebutan Basic Needs Matrix (Matriks Kebutuhan Dasar) Abraham Maslow.
Berikut gambaran 5 kebutuhan dasar Abraham Maslow:

Menurut Maslow, pemenuhan kebutuhan tersebut bergerak ke atas. Kebutuhan paling atas akan didapatkan jikalau kebutuhan di bawahnya sudah terpenuhi. Dua kebutuhan paling bawah yang berwarna kuning merupakan kebutuhan mendasar, sedangkan tiga di atasnya merupakan kebutuhan pertumbuhan.
Yang pertama adalah kebutuhan fisiologis (physiological needs) merupakan kebutuhan yang berkaitan langsung dengan kelangsungan hidup manusia, sehingga pemenuhannya tidak dapat ditunda (segera). Yang termasuk dalam kebutuhan ini antara lain seperti makan, minum, seks, dan lain-lain. Dalam pemenuhan kebutuhan tersebut telah diuraikan dalam beberapa ayat Al-Qur’an, antara lain adalah QS. As-Syu’ara (26): 79-80:
79. Dan Tuhanku, Dia yang memberi makan dan minum kepadaku, 80. Dan apabila aku sakit, Dialah yang menyembuhkan aku.
Hasrat seksual juga merupakan kebutuhan biologis yang mendasar pada makhluk hidup, termasuk manusia. Al-Qur’an menjelaskan bahwa terjaganya spesies manusia bersandar pada normatif pernikahan. Maka, dari hal tersebut Islam mengatur penyaluran hasrat seksual bagi kaum muslim. Islam menjadikan pernikahan sebagai institusi penyaluran hasrat seksual dan menyebutnya sebagai penyempurna agama. Dengan terpenuhinya hasrat seksual melalui pernikahan, maka keduanya menjadi makhluk yang lengkap dan mendapatkan rasa aman dan tenteram (QS. Al-Baqarah (2): 187 dan ar-Rum (30):21).
Kebutuhan di atas merupakan kebutuhan biologis bagi manusia, namun pemenuhannya tidak hanya bersifat materialistis. Al-Qur’an memberikan nilai tambah yang ditekankan dalam pemenuhan kebutuhan tersebut dan dikaitkan dengan hal yang berbau non-materil, seperti ketenangan, ketenteraman, kenyamanan, dan jauh dari rasa takut. Maka, hal ini senada dengan konsepnya Abraham Maslow dalam pemenuhan kebutuhan yang kedua dalam hierarkinya.
Kebutuhan akan rasa aman (need for self-security). Hal-hal yang termasuk dalam kebutuhan ini antara lain keamanan, perlindungan, bebas dari rasa takut, cemas dan kegalauan dunia. Sebagaimana yang sudah dijelaskan sebelumnya, setiap individu pasti mengidamkan kehidupan yang daman, tenang dan tanpa gangguan. Oleh karena itu, manusia akan selalu berusaha untuk menghindari hal-hal yang membahayakan bagi dirinya dan yang membuatnya sakit, baik fisik maupun mental, akan terus mencari keamanan dan kestabilan hidup, penuh dengan kerukanan dan lain-lain.
c. al-Hujurat (49): 12, Ghafir (40): 60, al-Ma’un (107): 1-7, al-Baqarah (2): 213 yang memiliki benang merah bahwa manusia merupakan satu institusi dalam hal sosial-budaya dan satu asal dalam hal penghambaan, maka sepatutnya memang sudah ada jiwa-jiwa kebersamaan dan keamanan bagi kehidupan bersama.
Kebutuhan ketiga adalah cinta dan rasa memiliki (need for love and belongingness), merupakan suatu kebutuhan setiap individu yang berkeinginan untuk menjalin hubungan sosial secara efektif atau hubungan emosional dengan individu lain, baik dalam keluarga maupun sesama manusia pada umumnya. Manusia akan bermasalah, seperti salah satunya merasa terasing, jika ia tidak terlibat atau tidak diajak dan memiliki hubungan sosial yang baik-baik saja, ketika ia ada tapi tidak dianggap ada, dan ketika ia di diskreditkan, dimarginalkan, serta tidak dicintai.
Seperti halnya kebutuhan akan makan dan minum, kebutuhan ini juga sangat vital. Contohnya seperti seorang anak yang kurang mendapatkan rasa kasih sayang dan cinta dari orang tuanya, maka anak tersebut layaknya kurang gizi, rapuh dan rentan terkena penyakit-penyakit sosial. Dalam hubungan suami-istri misalnya, banyak yang tidak mendahulukan harta, asalkan mendapatkan cinta yang setimpal dari pasangannya. Sebab cinta memang mendasari banyak hal asalkan sama-sama mendapatkannya, karena akan timbul rasa empati dan simpati untuk saling mendukung dan mengisi serta tidak akan terbersit untuk saling menyakiti apalagi bertindak kekerasan. Hal ini paralel dengan QS. as-Syura (43):23; Katakanlah aku tidak meminta upah apapun dari kalian, selain kecintaan terhadap keluargaku.
Dengan cinta dua arah baik secara horizontal ke sesama manusia maupun vertikal kepada Tuhan, maka manusia akan mendapatkan kedamaian dan kesejahteraan yang hakiki.
Kebutuhan selanjutnya yang tak kalah penting adalah kebutuhan akan harga diri (need for self-esteem) atau kebutuhan pada kehormatan dan kemuliaan. Menurut Abraham Maslow, setiap individu manusia pasti memiliki kecenderungan untuk menghormati dirinya sendiri dan sesamanya kecuali yang sakit jiwa. Seseorang yang memiliki harga diri cukup akan memiliki kepercayaan diri yang lebih tinggi serta produktif. Sementara, sebaliknya jika seseorang tidak mempunyai harga diri yang memadai akan diliputi rasa rendah diri dan rasa tidak berdaya, yang berakibat pada sikap putus asa dan perilaku neurotik. Ini menjadi tolok ukur penting dalam melihat suatu perilaku manusia bahwa ada variabel yang saling berkaitan yang membentuk perilaku tersebut, variabel tersebut adalah hierarki kebutuhan dasar manusia.
Dalam agama Islam, al-Qur’an sangat menekankan harga diri, kemuliaan dan kehormatan, sekaligus melarang sikap sebaliknya. (QS.al-Isra; (17): 70) menjelaskan Dan Kami telah memuliakan keturunan Adam, karena itu al-Qur’an menyebut manusia sebagai sebaik-baiknya ciptaan, Maka Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik (QS. al-Mu’minun (40):14). Oleh karena itu, Allah swt. memerintahkan manusia untuk saling menghormati satu sama lain serta saling membantu dalam kebaikan, tidak saling menindas dan mendzalimi.
Kebutuhan puncak menurut Maslow adalah aktualisasi diri, yaitu suatu dorongan dari dalam diri seseorang untuk mengekspresikan potensi yang ada pada dirinya, karena setiap orang lahir dengan membawa potensi masing-masing. Potensi tersebut ada yang tersalurkan dengan baik, namun tidak sedikit juga yang mendapati kerumitan dalam aktualisasinya. Manusia akan dianggap bermasalah jika potensinya tidak dapat terealisasi, karena adanya hambatan dari luar ataupun internal individu.
Berbeda dengan hewan, manusia dikaruniai oleh Tuhan dengan segudang potensi, sehingga bila potensi tersebut diurai lebih dalam, ia akan melebihi kemampuan semua makhluk Tuhan. Dengan potensi ilmu yang dimilikinya, manusia mampu terbang melebihi burung dan berenang lebih dalam melampaui ikan. Itulah mengapa dalam al-Qur’an menekankan bahwa tidak ada makhluk selain manusia yang lebih sempurna dan yang memiliki kedudukan tertinggi dan terendahnya sedemikian menakjubkan. Manusia akan mencapai derajat tertinggi, melebihi malaikat dan paling dekat dengan Allah (QS. an-Najm (53): 9), sehingga malaikat bersujud di hadapannya (QS. Shad (38):71) dan diangkat oleh Allah sebagai khalifah-Nya (QS. al-Baqarah (2): 30).
Sebenarnya dalam Islam ada tiga kebutuhan pokok yang tidak dijelaskan secara eksplisit oleh Abraham Maslow, seperti kebutuhan akan estetika dan etika. Dalam Islam bukan hanya mengajarkan kebenaran dalam beragama maupun bersosial, tapi ada nilai keindahan dan kebaikan yang tersirat di dalamnya, seperti yang diuraikan dalam QS. al-A’raf (7): 32. Selanjtunya kebutuhan yang tidak disebutkan Maslow adalah kebutuhan spritual, yaitu kebutuhan yang tidak terikat dengan materil maupun fisik. Sebuah penelitian psikologis menjelaskan bahwa orang yang memiliki keyakinan terhadap agama pada khususnya yang memiliki jenis ibadah tertentu dapat terhindar dari disfungsi mental dan sosial karena secara tidak langsung mereka mendapatkan strategi coping tersendiri dalam agamanya. Hal ini senada dengan QS. Yunus (10): 12 bahwa spiritualitas ketuhanan merupakan kebutuhan universal yang terkadang baru muncul ketika manusia mencapai puncak permasalahan dan tidak menemukan solusi, dalam Islam biasa disebut dengan konsep Tawakkal (berserah diri).
Dalam tulisan ini tidak ada kesimpulan yang mau ditarik, hanya saja ada beberapa poin penting yang perlu diperhatikan bersama bahwa kebutuhan pokok yang ditawarkan Abraham Maslow memang tidak jauh dari konsep universal al-Qur’an bahkan jelas dan saling berhubung-kait. Namun, dalam penjelasan lebih dalam, al-Qur’an memberikan konsep yang lebih rinci dan menyempurnakan konsep dari Maslow tersebut, sehingga kedua konsep ini saling interkoneksi dan bersifat normatif dalam hal kemanusiaan. Semoga ini menjadi awalan untuk mencari tahu lebih dalam tentang sains Islam, khususnya di bidang sosial, karena cakrawala pengetahuan tidak berhenti pada titik akhir paragraf. Terimakasih!
Oleh: Khidrian Arfiansyah, CSSMoRA UIN Sunan Kalijaga 2021
Refrensi
Hasyim Muhammad, Dialog antara Tasawuf dan Psikologi (Jogjakarta: Pustaka Pelajar, 2002)
Ishaq Husaini, Al-Qur’an dam Tekanan Jiwa, terj. Muhammad Habibi Amrullah (Yogyakarta: Sadra Press, 20120
Waryono Abdul Ghafur, dkk, Interkoneksi Islam dan Kesejahteraan Sosial (Program Studi IKS, UIN Sunan Kalijaga)
