Jika menurut sebagian besar orang pesantren hanyalah tempat untuk duduk dan mendengar ceramah agama, maka pendapat tersebut menjadi pengecualian bagi saya. Sebab pesantren, lebih dari itu. Dalam hidup saya, ia telah menjadi petunjuk arah dalam perjalanan tumbuh kembang di tengah ketidakkaruannya masa-masa remaja; membentuk cara pandang, kedewasaan, serta bagaimana diri ini berperilaku semestinya, sesuai dengan ajaran agama.
Di sanalah saya menyaksikan sendiri bagaimana perjuangan dan kasih sayang seorang kiai dan bunyai terhadap para santrinya , yakni pengabdian yang tak pernah meminta imbalan apa pun selain keberkahan ilmu dan akhlak yang baik bagi santri-santrinya.
Salah satu tokoh yang paling berkesan bagi saya adalah pengasuh pesantren kami, yang akrap kami panggil Kiai atau Bunyai. Sosok yang tidak hanya mengajarkan ilmu, tapi juga menuntun kami memahami arti kehidupan dan bagaimana menjalaninya tanpa keluar dari syari’at.
Saya masih ingat betul, bagaimana kehangatan beliau saat suatu kali mengantar saya dan beberapa teman untuk menghadiri sebuah acara. Bahkan kerap kali dicerminkan saat beliau mengajak kami makan bersama setelah acara. Dari situ saya sadar, hubungan kiai dan santri bukan soal atasan dan bawahan, tapi tentang sesama manusia yang mengajarkan cinta dan adab.
Layar Televisi tidak Banyak Mengisahkan Perjuangan Kiai
Namun pada beberapa saat ini, hati saya tersentak saat menyaksikan pemberitaan dari salah satu stasiun televisi nasional, Trans7, Senin (13/10/25) lalu. Yang dalam pemberitaannya justru menayangkan narasi seolah kehidupan di pesantren dipenuhi praktik “perbudakan”.
Sebagai seseorang yang telah lama hidup di pesantren, saya tidak hanya kecewa, saya merasa marah sekaligus prihatin. Bagaimana mungkin lembaga media sebesar itu menyiarkan sesuatu yang tidak sesuai dan bahkan jauh dengan kenyataan?
Bagi kami para santri, adab kepada kiai adalah pondasi utama. Saya tahu tidak semua orang memahami dunia pesantren dari dalam, tapi bukan berarti boleh menilainya dari luar secara sepihak. Sebab, ada banyak sekali kisah pengorbanan kiai dan bunyai yang tidak pernah terekam kamera. Ada yang rela menjual harta pribadinya demi biaya makan santri, ada yang setiap malam mendoakan murid-muridnya tanpa pernah diketahui, ada pula yang tetap mengajar meski tubuhnya telah menginjak usia renta. Semua dilakukan dengan ikhlas, tanpa pamrih. Tapi sayangnya, kisah seperti itu jarang sekali muncul di layar televisi.
Media seperti Trans7 seharusnya tidak gegabah menyiarkan isu sensitif tanpa riset dan verifikasi mendalam. Jangan karena satu atau dua kasus, seluruh dunia pesantren digeneralisasikan buruk. Sebuah perusahaan besar mestinya paham, bahwa setiap kata yang mereka siarkan punya dampak. Dan kali ini, dampaknya telah melukai hati banyak orang yang selama ini berjuang dalam diam di balik tembok pesantren.
Dan bagi kami, menghormati kiai bukan bentuk keterpaksaan, tapi warisan cinta dan adab yang kami jaga dengan sepenuh hati. Pesantren bukan tempat yang mengekang, melainkan tempat yang mengasuh dengan penuh kasih, seperti ibu yang menuntun anaknya belajar berjalan, menahan jatuhnya, lalu perlahan melepaskan dengan doa. Di sana, setiap teguran bukan untuk merendahkan, melainkan mendewasakan. Setiap aturan bukan untuk membatasi, tapi menuntun agar hidup lebih terarah dan bermakna.
Di balik kesederhanaannya, pesantren menyimpan kekuatan spiritual dan intelektual luar biasa, yang dengan kekuatan inilah lahir banyak tokoh yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. Sebut saja KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang dikenal dengan tutur lembut serta pemikiran moderatnya, KH. Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dengan keluasan ilmu tafsir dan kedalaman akhlaknya, hingga Prof. Nasaruddin Umar, seorang alumni pesantren yang kini menjabat sebagai Menteri Agama.
Mereka adalah bukti bahwa pesantren tidak mencetak manusia penurut tanpa daya kritis, melainkan insan berilmu yang membawa nilai-nilai keikhlasan, kesederhanaan, dan adab ke tengah masyarakat. Jika ada yang mengklaim bahwa pesantren adalah sistem perbudakan, maka dengan lantang saya katakana bahwa “Itu adalah kebutaan yang digeneralisir!”. Sebab dalam lintas sejarahnya, pesantren juga telah melahirkan banyak pribadi-pribadi yang mampu menyeimbangkan logika dan rasa, ilmu dan adab, pikiran dan hati.
Itulah esensi pesantren yang sebenarnya: tempat di mana ilmu diajarkan dengan kasih, dan manusia diasuh dengan cinta, agar tetap rendah hati meski berilmu tinggi, serta tetap membumi meski telah menapak pada kegemilangan duniawi.
Penulis : Fatma Anggit Nastiti
