Sebuah Refleksi Kepemimpinan Masa Kini
Gejolak dalam sebuah negara tidak terlepas dari cara seorang pemimpin mengatur sumber dayanya. Hal ini terlihat dalam berbagai negara mengalami perkembangan peradaban yang pesat atau hancur secara singkat atas pengaruh dari kebijakan pemimpin itu sendiri.
Pemimpin merupakan pemegang kekuasaan dan otoritas tertinggi dalam sebuah kelompok. Dalam konteks nation state saat ini, raja, presiden ataupun perdana menteri merupakan simbol dari para pemegang kekuasaan tertinggi. Kecakapannya akan mempengaruhi dinamika peradaban negaranya. Teladan dan tingkah lakunya sekaligus akan disorot sebagai implikasi logis sebagai tanggung jawab mengemban amanah tertinggi.
Dari refleksi ini khususnya di tanah air, kita sendiri tahu bagaimana petahana kita memimpin dengan berbagai kontrofersi dan satu dua kabar baik, negara ini mempunyai dinamika yang kompleks. Sebenarnya ada banyak role model yang bisa dijadikan contoh pemimpin, dari sosok otoriter yang melegenda seperti Alexander the Great dan Genghis Khan, sampai tokoh demokratis seperti Nelson Mandela atau pejuang kemerdekaan Mahathma Gandhi. Banyak sekali nama-nama yang bisa kita lihat sebagai pelajaran dengan latar belakang problematika zaman yang berbeda-beda. Akan tetapi kita lupa bahwa figur teladan yang lebih dulu kita kembalikan sebagai uswatun hasanah adalah Nabi Muhammad SAW.
Selayaknya umat islam, kita tidak seharusnya melupakan akar rumput kita sebagai umat dari Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dalam memimpin, Nabi memiliki jiwa yang membumi dan berpihak kepada kaum papa. Humanity sebagai landasan memimpin merupakan value yang jarang sekali dimiliki oleh banyak pemimpin saat ini yang cenderung egois memikirkan perut mereka sendiri,
Dalam kitab-kitab sirah seperti dalam salah satu hadis ada seseorang bertanya keada kepada Rasulullah, “Bagaimana Islam yang paling baik itu?”
تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ رواه البخاري
“Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.” (HR. Al-Bukhari).
Rasulullah merupakan Pemimpin yang Adil dan tidak Anti Kritik
Dalam hal ini rasulullah membimbing masyarakat untuk saling menjaga baik dikenal ataupun tidak seperti halnya ketika Rasulullah SAW ketika ditegur oleh salah satu sahabatnya sebelum perang Badar
Perang Badar terjadi di waktu pagi di hari Jum’at tanggal 17 Ramadhan. Sebagaimana dituturkan kepadaku oleh Abu Ja’far Muhammad bin Ali bin Al-Husain, Ibnu Ishaq berkata: Habhan bin Wasi bin Habban berkata kepadaku dari sesepuh kaumnya yang berkata bahwa Rasulullah. Shalallahu alaihi wa Sallam meluruskan barisan para sahabat pada Petang Badar dengan menggunakan anak. panah di tangannya. Beliau berjalan melewati Sawwad bin Ghaziyyah sekutu Bani Adi bin An Najjar, yang sedikit maju keluar dari, barisan, lalu menusuk perut Sawwad bin Ghaziyyah dengan anak panah tersebut sambil bersabda: “Luruskan barisanmu wahai. Sawwad!” Sawwad bin Ghaziyyah berkata: “Wahai Rasulullah, engkau menyakitiku, padahal engkau diutus, Allah dengan membawa kebenaran dan keadilan. Aku meminta qishas atasmu.” Rasulullah Shallalabu ‘alaihi wa Sallam membuka perutnya, dan bersabda kepada Sawwad bin Ghaziyyah: “Silahkan lakukan qishas”
Sawwad bin Gibaziyyah merangkul. Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam dan mencium perut beliau. Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada. Sawwad bin Ghaziyyah “Mengapa engkau melakukan ini semua, wahai Sawwad?” Sawwad bin Ghaziyyah menjawah “Wahai Rasulullah, aku hadir di sini sebagaimana yang engkau saksikan Aku bertekat menjadikan akhir jumpaku denganmu dalam keadaan kulitku bersentuhan dengan kulitmu” Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan untuk Samwad bin Ghaziyyah. Terjemah Sirah Ibnu Hisyam hlm 407
Hal ini menunjukan bahwa apabila beliau disaat melakukan kesalahan, Nabi mengakui kesalahannya dan menerima balasannya ketika hal itu memang nyatanya dilakukannya. Refleksi atas kisah teladan ini (paling tidak nilai intinya) seharusnya tercerminkan dalam presiden kita. Realitanya budaya ngeles masih menjadi kebiasaan para wakil-wakil kita. Hal ini menjadi evaluasi dan kritikan bagi mereka yang merasa di pucuk kekuasaan sebuah negara.
Menerima Masukan Umat Jika Mereka Lebih Tahu
Dalam halnya aspirasi para pengikutnya, Rasulullah pun mendengarkan berbagai saran para pengikutnya. Dapat dilihat dalam perang Khandaq, Salman al-Farisi memberi masukan Rasulullah untuk memakai strategi parit yang merupakan arti harfiah dari “khandaq” itu sendiri. Strategi ini nyatanya menjadi taktik yang efektif ketika itu.
Selain itu dalam hadis yang lain, juga dijelaskan Rasulullah yang menyerahkan suatu urusan kepada sahabat mengenai hal yang lebih dimengerti olehnya:
عَنْ عَائِشَةَ وَعَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِقَوْمٍ يُلَقِّحُونَ فَقَالَ لَوْ لَمْ تَفْعَلُوا لَصَلُحَ قَالَ فَخَرَجَ شِيصًا فَمَرَّ بِهِمْ فَقَالَ مَا لِنَخْلِكُمْ قَالُوا قُلْتَ كَذَا وَكَذَا قَالَ أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ. رواه مسلم
Dari ‘Aisyah dan dari Tsabit dari Anas bahwa Nabi ﷺ pernah melewati suatu kaum yang sedang mengawinkan pohon kurma lalu beliau bersabda, “Sekiranya mereka tidak melakukannya, kurma itu akan (tetap) baik.” Tapi setelah itu, ternyata kurma tersebut tumbuh dalam keadaan rusak. Hingga suatu saat Nabi ﷺ melewati mereka lagi dan melihat hal itu beliau bertanya: ‘Ada apa dengan pohon kurma kalian? Mereka menjawab, Bukankah Anda telah mengatakan hal ini dan hal itu? Beliau lalu bersabda, ‘Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian.’ (HR Muslim no 2363). Kitab Shahih Muslim Cetakan darusalam Saudi hlm 1039
Oleh : Ezra Najih Wildani
