Menjadi bagian dari penerima beasiswa memang anugerah yang patut disyukuri. Uang bulanan aman, urusan semesteran lunas. Namun, di balik kelegaan finansial itu, terselip sebuah tanggung jawab moral yang bisa dibilang tidak kecil.
Bukannya tidak mau bersyukur, kami hanya ingin realistis. Bahwa menjadi anak PBSB bukan berarti haram hukumnya merasa lelah. Masalahnya, ekspektasi lingkungan sekitar sering kali memperlakukan dan menganggap penerima beasiswa seperti manusia multitalenta. Setiap rupiah yang disalurkan membawa harapan besar: santri penerima beasiswa tidak hanya tumbuh menjadi individu sukses secara personal, tetapi juga kembali dan menghidupkan ekosistem di sekitarnya. Begitu status ini disandang, pundak mendadak memikul beban tak kasatmata.
Di sinilah ironi berenang bebas. Mau sambat takut dibilang tidak bersyukur. Mau pura-pura kuat, tapi kepala terlanjur overheating. Maka sudah saatnya kita sepakat bahwa menjadi anak PBSB, bukan berarti menjelma menjadi manusia tanpa celah. Lelah itu manusiawi. Mengakui kalau kita sedang kewalahan bukan berarti melunturkan rasa syukur yang sudah kita rawat sejak lama.
Harga Diri di Lembar KHS
Di antara sekian banyak pasal tak tertulis dalam kontrak beasiswa, ada momok paling klasik dan populer, yakni standar minimal IPK. Hal ini sukses membuat anak PBSB senam jantung setiap akhir semester.
Dulu di pesantren, ukuran dosa itu jelas: terlambat jamaah, ketahuan kabur, atau melanggar peraturan. Tapi semenjak menyandang status ini, standar dosa rasanya bergeser ke dua digit angka di kertas KHS (Kartu Hasil Studi).
Sistem seolah mendesain standar bahwa penerima beasiswa haram hukumnya jatuh di bawah angka aman. Nilai B yang bagi mahasiswa biasa adalah anugerah, bagi seorang awardee bisa berubah menjadi krisis eksistensial. Kita seolah terperangkap dalam ilusi bahwa harga diri seorang penerima beasiswa adalah seukuran transkrip nilai.
Padahal, sering kali mahalnya IPK itu harus dibayar dengan pengorbanan hal-hal yang tidak kalah penting. Jam tidur yang layak atau sekadar waktu luang untuk bengong merenungi nasib. Seolah, angka di KHS bukan lagi cerminan ilmu yang terserap, melainkan harga sewa agar status tersebut tidak dicabut paksa dari pundak kami.
Ekspektasi Ruang Publik terhadap Anak PBSB
“Anak PBSB harusnya bisa jadi contoh baik untuk yang lain”, “Anak PBSB harusnya sudah mengerti soal ini”. Barangkali kalimat-kalimat semacam ini sudah terasa akrab di telinga. Dosen kerap menganggap anak beasiswa lebih dulu tahu materi dibanding teman yang lainnya. Padahal, kami juga sama-sama sedang dalam proses belajar.
Menjadi anak PBSB sering kali dianggap sebagai jaminan mutu di mata dosen. Seperti kejadian semester lalu di mata kuliah Academic Writing . Ketika dosen melontarkan pertanyaan, seisi kelas mendadak kompak menunduk dan khusyuk menatap layar ponsel. Maka, secara otomatis yang dipanggil pertama kali oleh dosen adalah anak PBSB. Di titik inilah anak PBSB adalah harapan untuk menghidupkan marwah intelektual ruang kelas. Sebab, bagi dosen, anak PBSB sudah pasti tahu. Padahal kalau mau jujur, stereotip bahwa anak PBSB otomatis jenius, jelas tidak bisa disamaratakan. Ada juga yang biasa saja terhadap mata kuliah tertentu, meski tetap menjalankan kewajibannya.
Kami masuk kampus bukan karena sudah tahu segalanya, melainkan sama-sama belajar dengan yang lain. Namun, sistem kampus kerap lupa bahwa sebenarnya bantuan finansial fungsinya meringankan biaya kuliah, bukan mencetak manusia yang serba tahu.
Cap “Anak Emas” Bukan Hal yang Terasa Istimewa
Selain gelar awardee, “anak emas” juga kerap kali menjadi julukan yang disematkan kepada anak PBSB. Sekilas, frasa ini terdengar seperti bentuk keistimewaan dan pujian yang menyenangkan. Namun, nyatanya, di balik julukan ini menyimpan sarkasme halus yang cukup menguji kesabaran.
Di mata sebagian mahasiswa lain, label ini kerap kali dipakai untuk menyoroti fasilitas yang kami miliki, dibarengi prasangka bahwa para dosen selalu menganakemaskan anak PBSB. Bagi mereka, jalan anak PBSB selalu dimudahkan.
Perspektif semacam ini malah melanggengkan asumsi bahwa jalan hidup kita sudah otomatis mulus. Padahal, alih-alih merasa diistimewakan, cap tersebut justru terasa seperti sangkar transparan dan bikin tidak enak hati.
Namun, barang kali hal ini menjadi pengingat keras agar anak PBSB tidak semena-mena dengan privilege yang ada. Menjadi awardee bukan lisensi untuk bergaya hidup di atas awan, melainkan amanah yang menuntut untuk tetap waras dan tahu diri.
Beasiswa adalah Jembatan, Bukan Penjara
Lantas, harus bagaimana? Apakah kita harus melepas almamater lalu lari begitu saja?
Kunci untuk bertahan di tengah gempuran tuntutan ini sebenarnya sederhana, mencoba membumi. Kita perlu menyadari bahwa beasiswa merupakan sebuah jembatan, bukan penjara. Beasiswa ini diberikan agar bisa belajar, mengembangkan potensi, dan memperluas horison berpikir.
Tentu, ada tanggung jawab yang perlu dijalankan. Ada aturan yang harus dipatuhi, standar akademik yang perlu dijaga dengan baik, serta kepercayaan yang wajib dipertanggungjawabkan.
Kesempatan yang diberikan melalui beasiswa tidak semestinya dipahami sebagai tuntutan mempertahankan angka tertentu. Artinya, keberhasilan seorang awardee tidak selalu diukur dari seberapa tinggi IPK yang berhasil dipertahankan, tetapi bagaimana mereka menggunakan kesempatan tersebut untuk berkembang.
Barangkali, satu hal yang perlu diluruskan dari pandangan publik adalah anggapan bahwa anak PBSB memiliki kesempurnaan mutlak. Nyatanya, tidak semua anak PBSB memiliki ambisi yang tinggi. Kami sama seperti mahasiswa lain, hanya kebetulan dibantu biaya kuliahnya.
Penulis: Siti Istiqomah