Oleh :M. Fathihul Abror
Di Bawah Cahaya Bohlam
Di bawah pancaran redup bohlam itu,
kau memintaku untuk menunggu.
Menunggu hingga kau temukan serpihan dirimu yang hilang,
hingga kau mengenali bayanganmu sendiri dalam cermin kehidupan.
Aku menunggu, dengan sabar, dengan cinta yang kuanggap begitu berharga.
Namun apa yang kutemui?
Ketika kau akhirnya menemukan dirimu,
aku malah kehilangan diriku sendiri di tengah perjalanan.
Kupikir, kau akan menemukanku di sisimu,
menggenggam jemarimu dalam keutuhan yang kau cari.
Namun kau tak melihatku, kau tak menemukanku di sana.
Aku hanyalah bayangan yang memudar dalam pandanganmu.
Kini aku belajar, dari luka yang tak pernah lelah mengajariku.
Belajar untuk tidak menaruh diriku di bawah belas kasih orang lain,
di bawah naungan bohlam harapan yang rapuh.
Jika aku tak cukup berarti untuk masa kinimu,
maka aku tak akan memaksakan diriku menjadi bagian dari masa depanmu.
Di bawah cahaya bohlam yang menyala temaram,
aku sadar, cahayanya tak pernah memiliki dirimu,
tak pula memancarkan kemuliaanmu.
Bohlam itu hanyalah saksi bisu,
menyaksikan aku melepasmu,
dan perlahan menemukan diriku kembali.
Memilih Rasa Sakit
Ketika rasa sakit mengetuk pintuku,
ia hadir bukan sebagai musuh,
bukan sebagai penghancur yang datang untuk meruntuhkan.
Ia hadir sebagai pengingat,
sebagai pembersih luka-luka yang tersembunyi dalam jiwaku.
Jika aku diberi pilihan antara mati rasa atau rasa sakit,
aku akan memilih rasa sakit tanpa ragu.
Sekalipun rasa sakit itu memakan waktu bertahun-tahun,
aku akan menerimanya,
karena lebih baik terluka dalam kejujuran,
daripada memakai topeng kekuatan,
saat tawaku hampa,
dan air mataku terlalu angkuh untuk jatuh ke bumi.
Aku percaya, rasa sakit ini bukanlah selamanya.
Suatu hari, ia akan mereda,
dan aku akan tertawa dengan lega,
tawa yang bukan lagi kosong,
tawa yang lahir dari hati yang telah pulih.
Mungkin perjalanan menuju kesembuhan ini panjang,
mungkin butuh bertahun-tahun untuk tiba di ujungnya.
Namun setidaknya,
aku memilih menjaga hatiku tetap menyala, tetap hidup,
daripada membiarkannya mati rasa.
Aku memilih membiarkan hatiku tetap murni,
daripada membiarkannya ternoda oleh luka-luka
yang kutolak untuk kurasakan.
